Selasa, 13 Disember 2016

WAJAH PENDIDIKAN CERMINAN DARI SEBUAH GENERASI BANGSA



Bila ada kata pepatah mengatakan bahwa guru pahlawan tanpa tanda jasa,itu benar adanya. Pekerjaan guru sangatlah mulia. Orang hebat, besar dan suskes itu terbentuk dari perpanjangan tangan guru. Guru merupakan ujung tombak dari sebuah genarasi. Laksana busur yang dilepaskan, tepat sasaran atau melenceng itu semua tergantung dari pendidikan yang didapat selama bangku sekolah.  Maka tak heran bila wajah pendidikan cerminan dari sebuah generasi bangsa.
Lihatlah negera yang maju, bagaimana wajah pendidikan mereka bandingkan dengan negara yang terbelakang. Ada perbedaan bagai bumi dan langit. Saat kalah perang perdana menteri Jepang mengatakan berapa guru yang masih hidup? Bukan seberapa harta yang tersisa? Berapa korban jiwa? Berapa pasukan militer ? Itu menandakan nilai sebuah guru laksana mutiara yang berkilau. Maka tak heran Jepangpun bisa begitu cepat bangkit dari berbagai lini. Mereka tidak memiliki sumber daya alam melimpah, tapi mereka mempunyai pendidikan yang bisa menciptakan daya piker. Apa yang tidak ada menjadi ada ? Apa yang tidak mungkin menjadi mungkin ? Maka tak heran negara mereka berkembang dengan pesat.
Bercerminlah dari pendidikan negara maju, Indonesia jauh ketinggalan kereta. Kenapa itu bisa terjadi, apa kita kekurangan sumber daya manusia, guru-guru terbaik yang jenius. Ternyata kita tak kekurangan guru-guru cerdas dan anak-anak yang cerdas.  Lihatlah, anak-anak bangsa tak jarang  menjuarai berbagai olimpiade sains,  penemuan dalam bidang teknologi tak kalah. Lalu, apa masalahnya? Kurangnya asperasi dan penghargaan terhadap pemuda bermutu. Sehingga mereka tumbuh tanpa bisa berkembang dan berbuah. Mereka tak diberi wadah dan dirawat dengan baik.
Selain itu ada hal hal yang lebih mendasar merupakan pondasi dari banguan tersebut. Pendidikan moral yang terlupa. Lihatlah wajah pendidikan kita bagaiman nilai diatas kertas menjadi sebuah kebanggaan. Nilai-nilai dan etika terlupakan, tentang sebuah proses pencapainan yang tidak penting. Kita selalu lebih condong hasil daripada proses. Nilai sembilan diatas kertas disambut dengan kebanggaan meski hasil mencontek. Sedangkan nilai lima menjadi tidak berharga meski hasil kerja keras.  Betapa angka menjadi dominan, malah seakan menjadi ajang perlombaan untuk membentuk eksistensi diri.
Tak heran terbentuklah sebuah karakter mencontek dan kecurangan menjadi sebuah budaya. Bandingkan dengan Jepang, proses itu menjadi harga mati. Hukuman bagi siswa yang ketahuan berbuat curang dikeluarkan dari ujian dan terancam tidak lulus. Tidak dibiarkan bibit-bibit kecurangan berkembang

Tiada ulasan: