Jumaat, 14 Oktober 2016

CERPEN ; SEPASANG MATA PENUH CINTA By Rosella Mecca



 SEPASANG MATA PENUH CINTA By Rosella Mecca

            Dia selalu menggandeng tangan istrinya, menggegam penuh kehangatan. Perempuan dengan wajah yang memiliki lipatan dan kerutan di wajahnya. Perawakan tinggi dengan mengenakan kacamata. Sedangkan laki-laki itu, suami telah tumbuh uban dikepalanya tapi masih bugar. Usia istrinya lebih mudah tujuh tahun. Setiap bulan dia membawa istrinya untuk kontrol rutin kerumah sakit. Dia dengan sabar mengikuti gerak lamban sang istri,  yang badannya sering bergetar karena penyakit yang dideritanya. Sebuah penyakit saraf bernama parkison, selain itu ibu itu pernah menderita stroke non hemoragik, dua tahun silam.
            “Selamat pagi buk, silahkan duduk.” Aku menyapa mereka dengan seyum.
            “Terimakasih,” jawab laki-laki itu.
            “Apa yang dirasakan buk? Apakah  keluhannya?” sambil mengukur tekanan darah.
            “Iya suster, tangannya masih suka bergetar dan kaku. Tapi sudah lebih baik dari bulan kemarin. Tapi nafsu makannya menurun. Minum obat susah suster.” Jawab suaminya.
            “Ibu, mau sembuhkan ?”
            Dia hanya mengagukan kepala sambil menunduk.
            “Kalau ibu mau sembuh harus semangat, obatnya diminum dan harus makan.”
            Setelah melakukan pemeriksaan dasar, kutulis semuanya dilist kuning. Dan mempersilahkan mereka menunggu karena dokter spesialis belum datang.
            Laki-laki itu bercerita bahwa tahun ini jadwal keberangkatan haji mereka, tapi dia bingung melihat kondisi istrinya. Apakah mungkin bisa ikut bersama dengannya, kalaupun dia berangkat sendiri,  tak bisa meninggalkan istrinya terlalu lama. Siapa yang akan merawatnya. Semua aktivitas istrinya, dari mandi, menyuapi, memasangkan pakainan dan lainnya sebagai suami yang melakukan. Diapun tidak ingin merepotkan anaknya dan tidak percaya bila orang lain yang merawat istrinya. Sepasang suami istri ini, memiliki empat orang anak. Semua telah menikah, 3 diantaranya merantau di kota seberang sedangkan satu anaknya tinggal tidak jauh darinya tapi  habis melahirkan. Anaknya tidak keberatan untuk mengurus sang ibu.
Dari 20 tahun silam, mereka menyisihkan tiap uang yang mereka dapatkan untuk ditabung sebagai biaya berangkat ketanah suci. Semua recana mereka hamper terwujud. Bibir wanita itu tampak bergetar ingin mengatakan sesuatu pada suaminya. Laki-laki itu, menggegam tangan istrinya,  mencoba memahami apa yang dia katakan. “Iya kita akan berangkat bersama.” lalu bulir airmata mengalir dari mata istrinya, dia tampak terisak. Laki-laki itu, memeluk tubuh istrinya untuk menenangkan. “Kita akan berangkat kesana.”
            “Kalau ibu mau berangkat ketanah suci, harus rajin minum obat dan mau makan. Biar cepat sehat dan bisa ikut berangkat haji.” Kataku.
            “Dengarin kata susternya, jangan malas makan dan minum obat.”
            Wanita itu hanya mengagukkan kepala, dan suami menghapus airmata yang mengalir dari mata perempuan itu.
            “Mungkin saja, ibu bisa ikut berangkat haji meski kondisi seperti. Tapi bapak tentu akan sedikit kerepotan. Tapi disana ada tenaga medis yang stanby. Akupun ikut mendoakan semoga kondisi ibu semakin membaik dan bisa ikut.” selaku
            “Terimakasih suster.”
            Dia sepasang suami istri, memadang mereka memberikan sebuah arti bahwa  begitu bentuk sebuah kasih. Aku sempat menanyakan kepada bapak itu, apa alasan dia begitu setia pada istrinya, menjaga dan merawatnya. Ah..! kondisi seperti ini, pemadangan yang begitu sangat jarang kulihat dan bisa dibilang baru pertama kali setelah bertahun-tahun  bekerja disini. Aku lebih sering menyaksikan kondisi sebaliknya. Dari para pasien yang berobat kesini.
            Laki-laki itu mengatakan bahwa aku telah memilih dia menjadi istriku, maka jiwaku dan jiwa telah menyatu menjadi satu. Sakit yang dia rasakan adalah sakitku, begitu juga bahagia yang dirasakan. Sepasang kaki akan pincang bila salah satu kakinya sakit. Sudah seharusnya dan kewajibanku untuk menjaganya, aku tak ingin kehilangan satu kaki itu. Separuh kehidupan dan sampai hayatku dialah kaki yang akan menemani perjalan hidup dan mengarungi semuanya. Aku adalah laki-laki, bila dulu saat masih sehat dia merawatku dengan begitu baik, lalu betapa tidak berprikemanusian dan tidak memiliki hati bila meninggalkannya. Dia menderita penyakit seperti ini, aku memiliki andil didalamnya. Dia telah bekerja begitu keras untuk merawat rumah, menjaga anak-anak, terkadang membantu membanting tulang.  Inilah saatnya aku membalas. Doaku, saat ini sus, cuma satu berharap diberi kesehatan agar bisa terus menjaganya.
            Sungguh kuterharu mendengar kata yang lahir dari bibir bapak itu. Hatiku berdesir dan menitipkan doa dalam hati, “Tuhan bila nanti Kau sandingkan aku dengan seseorang, moga sikap dan prilaku sebaik bapak itu, kesetiaannya juga begitu.” Teringat sebuah quete “Orang mencintai saat kau memiliki segalanya, itu biasa. Tapi yang luar biasa adalah saat kau tak memiliki apa-apa, sedang tertimpa musibah sehingga jatuh miskin, atau kehilangan anggota tubuh karena kecelakaan, dan mungkin saat kau jatuh sakit. Dia tetap mencintaimu itu baru sesuatu yang luar biasa.”
            Hari ini, sepasang suami istri itu kontrol kembali ke rumah sakit, selain memeriksa istrinya bapak itu berpamitan kepadaku bahwa minggu depan mereka akan berangkat haji. Bahagia, aku mendengarkannya, tak lupa mendoakan semoga perjalanan mereka diberikan kelancaran. Tampak sinar kebahagian dari mata wanita itu, sebuah pancaran. Bagaimanapun ini adalah mimpi mereka berdua. Mimpi mereka akan terwujud.
            ****
            Laki-laki itu datang ke poli, tapi kali ini ada hal yang berbeda. Dia tidak bersama istrinya. Aku langsung menanyakan keadaan ibu, bagaimana kondisinya. Matanya berkaca-kaca, sejenak dia terdiam.  Suara tercekat. Aku mempersilakannya duduk terlebih dahulu.
            “Suster, istri saya telah pergi menghadap illahi.”
            Aku sangat kaget mendengarnya, tiba-tiba buku yang kupegang terlepas. Sesaat kemudian aku bisa mengendalikan diri dan mengucapkan turut berduka cita. Seketika rasa sedih bergemalayut, tak akan kulihat lagi sepasang mata yang penuh cinta itu. Sepasang mata yang  mengajar tentang arti kasih.
“Satu hari setelah kami sampai di rumah. Dia tidak sempat dibawah kerumah sakit, semua berjalan begitu cepat. Dia mengeluh sakit kepala dan tiba-tiba terjatuh. Tapi aku bahagia karena impian kami untuk ketanah suci telah terwujud. Dan tuhan memberikan kemudahan selama menjalankan ibadah. Selama ditanah suci kondisi kesehatan sangat baik, tangan dan tubuhnya tidak pernah bergetar.” Bapak itu menceritakan dengan mata sendu.
“Bapak yang sabar, ini semua recana dari tuhan. Dan ibu pasti sudah bahagia diatas sana.”
“Iya suster. Suster, saya ingin mengucapkan terimakasih karena telah merawat istri bapak. Bapak hanya ingin memberikan kenangan-kenangan ini dari tanah suci. Ini ibu yang membelikan. Katanya buat suster karena telah memberikan dia semangat buat ketanah suci.”
 “Terimakasih pak,”
Sebuah mukena, tasbih dan sekontak kurma beserta air zam-zam. Bapak itu pergi meninggalkan aku yang masih tercenung. Iya sepasang mata yang penuh cinta, itulah kisah tentang suami istri yang begitu setia pada istrinya.  Dan aku tak akan pernah melihat mereka lagi.
****

Khamis, 13 Oktober 2016

CERPEN ; Ayah Yang Tak Pernah Kembali by Rosella Mecca




 Ayah Yang Tak Pernah Kembali by Rosella Mecca

 “Kau, bujang anak laki-laki ayah. Tak boleh cengeng, di pundakmu ada beban yang akan engkau emban. Nanti bila ayah jauh dari kalian. Kaulah yang akan bertugas menjaga ibu dan adikmu.”
“Ayah benaran akan pergi?”tanyaku lirih.
“Anakku, dengarkan ayah. Ini keputusan yang berat, nanti setelah usiamu  cukup, engkau pasti akan mengerti. Kenapa ayah mengambil keputusan ini.”
“Bagaimana kami bisa hidup bila tidak bersama ayah,.”
“Anakku, ayah yakin kau telah tumbuh menjadi laki-laki bukan anak-anak lagi. Maka, ayah membicarakan semua ini kepadamu. Ayah melakukan ini demi masa depan kalian. Bukankah, kau bercita-cita masuk perguruan tinggi dan menjadi insyiur. Ayahlah yang akan bertagung jawab untuk memwujudkan mimpi itu nak. ”
Hening terasa, tak ada kata yang bisa kurangkai. Bulir-bulir itu tak bisa jua kutahan. Mengalir dari pipiku. Malam itu, ayah sengaja mengajakku keluar rumah. Mencari angin dan menatap langit yang bertabur bintang. Aku tak menyangka, ayah akan membicarakan suatu hal yang serius. Kukira, ini rutinitas yang sering kami lakoni, menghabiskan akhir pekan. Iya, aku sangat dekat dengan ayah. Banyak yang bilang bahwa diriku ada duplikat darinya. Wajah, postur tubuh dan sikapnya. Ayahlah yang mengajarkan aku memanjat pohon, memanah, berenang di sungai, selain itu dia juga mengajarkan  pencak silat, katanya seorang laki-laki harus memiliki ilmu bela diri. Bukan untuk pamer kekuatan, tapi sebagai pelindung diri karena laki-laki akan banyak bersentuhan dengan dunia luar. Selain itu, aku selalu menceritakan semua kepadanya, baik masalah dan kebahagiaan yang kurasakan, hampir tak ada rahasia. Tapi hari ini, ayah mengutarakan sesuatu yang membuat airmataku menitik. Aku membayangkan bagaimana esok, bila ayah tak lagi memberi warna pada kehidupan kami.
Tangan kekar itu mencengkaram bahuku, lalu  memeluk tubuhku. Terdengar suara yang gemuruh dari balik dadanya. Aku tahu, ayah memang tidak menangis tapi dalam hatinya, dia menangis. Iya, ayah juga bersedih. Sama sepertiku.
“Anakku, ibu belum semua ini. Ayah hanya membicarakan kepadamu. Tugas ini, beban yang akan kau tagung kelak. Kau harus siap akan semua itu. Ayah percaya kepadamu. Jaga ibu dan adikmu, selama ayah tiada.”
“Ayah..,” bola kami beradu, aku tak sanggup untuk meneruskan kata-kata.

****
            Lambainan tangan ayah masih jelas tergambar di pelupuk mata, pagi tadi dengan langkah yang tertahan dan berat. Ayah pergi meninggalkan kami semua. Aku tahu, sekuat apapun dia berusaha menyimpan airmatanya, toh pagi tadi cairan bening itu mengalir dari kelopak matanya. Ibu berusaha tegar, dan adik perempuan yang masih lima tahun hanya diam dan sibuk dengan bonekanya. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dia berpikir bahwa ayah hanya pergi bekerja seperti biasa.
            Setelah, mobil yang melaju membawa ayah, hilang dari padangan. Ibu membalikkan badan, berlalu. Menutup pintu kamar, terdengar dia terisak. Iya, saat ini aku mungkin lebih siap menghadapi kepergian ayah. Sengaja aku mengajak adikku keluar rumah untuk membeli permen di warung. Membiarkan ibu sendirian di rumah.
            Seminggu berlalu, memang terasa ada yang kurang dan hilang, tapi waktu akan membuat diri beradaptasi. Mau tidak mau, suka dan tidak suka pada akhirnya akan terbiasa. Hidup akan berjalan, bersama kesibukan kepergian ayah tak lagi menjadi sebuah kesedihan. Ibu sibuk dengan rutinitas menyulam dan terkadang membuat kripik untuk dititip ke warung. Tugasku, juga tetap merawat ayam dan bebek, semakin hari terus bertambah jumlahnya, dan telurnya terkadang kujual untuk jajan.
            Setiap bulan kiriman rutin dari ayah untuk memenuhi kebutuhan kami selalu mengalir bersama surat. Lalu, aku akan membalas surat itu, berlembar-lembar, sejak saat itu aku mulai suka menulis. Padahal dulu menulis adalah pekerjaan yang paling membosankan, jangan tanya nilai bahasa indonesiaku dan tugas mengarang, dapat nilai enam itu sudah paling tinggi. Kuceritakan semua hal, tentang sekolahku, ibu, adikku dan segala rutinitasku. Tak lupa selalu kutanyakan kapan dia akan pulang, kami selalu merindukan kehadirannya.  Tak lama, surat balasan darinnya. Ayahpun akan menceritakan keadaannya disana, tentang pekerjaannya. Dia akan menyelipkan photo saat berpose di tepi pantai, di atas kapal. Dibalik photo itu selalu ada tulisan. “keluargaku adalah napas, ayah akan pulang.” Aku sangat senang, begitu juga dengan ibu.
            Ayah memutuskan untuk mengikuti jejak teman satu sekolah dulu yang bekerja di kapal. Ayah bertekad ingin merubah nasib dan kehidupan. Biar Aku dan adikku bisa sekolah tinggi. Andai, dia mengandalkan pekerjaan disini yang hanya serambutan, tak menentu. Kadang ngojek, kadang ngecat, dan lain sebagainya. Ayah dulu bekerja di perusahaan makan instan, sebagai buruh. Tapi perusahaan itu sekarang gulung tikar. Ayahpun harus kehilangan pekerjaan dan menjadi pengaguran. Untung ibu tidak bergantung pada ayah. Ibu berusaha kreatif mengisi waktu luangnya, dan bisa menghasilkan uang meski tidak seberapa. Ibu, bukan perempuan yang banyak menuntut. Masa-masa sulit yang dilewati saat krisis melanda rumah ini. Tak pernah diisi dengan keluhan. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Ayah berusaha membanting tulang dan ibu sebisanya membantu.
            Minggu pertama diawal bulan, pak pos akan mengetuk pintu rumah kami mengantarkan sebuah amlomp bersama beserta bingkisan. Tapi berapa telah bulan berlalu, surat yang kukirimkan untuk ayah tak pernah mendapatkan jawaban lagi. Aku semakin rajin mengirim surat. Berapa kali, aku pergi kekantor pos untuk memastikan apakah suratku telah sampai, atau ada surat yang dikirimkan untukku. Tapi hasil yang nihil. Aku pulang dengan tangan gontai.
            Setiap hari, aku menunggu kabar dari ayah. Pikiran jahat terkadang melintas dalam benak, apa mungkin terjadi sesuatu pada ayahku, atau dia telah tiada. Aku buru-buru menepis semua itu, mungkin dia sedang belayar kesebuah pulau terpencil. Ayah, pasti baik-baik saja. Begitulah aku berusaha menenangkan hati.
            Tapi satu tahun berlalu, ayah hilang tanpa jejak dan kabar. Surat yang kukirimkan tak pernah ada balasan. Aku berusaha mencari rumah teman ayah, tapi penghuni rumah itu telah pindah ke Kalimatan, begitulah.
            Setiap kali, aku pulang dari kantor pos. Ibu akan bergegas menanyakan apa aku mendapatkan kabar tentang ayah. Aku tahu, ibu pasti sangat sedih dan terpukul. Begitu juga yang kurasakan. Tapi aku tak boleh menyerah, bukan dulu ayah berpesan aku harus menjaga keluarga ini. Menjaga adikku, dan ibu.
                                                                                                            By Rosella Mecca

Selasa, 11 Oktober 2016

CERPEN : RANIA DAN HUJAN By Rosella Mecca



RANIA DAN HUJAN By Rosella Mecca

            Waktu telah bergulir begitu cepat, dia selalu duduk di bawah pohon itu saat hujan, dan membiarkan rintik-rintiknya membasahi tubuhnya. Dia tak akan pernah beranjak dari sana sebelum hujan itu berhenti. Meskipun hujan badai sekaligus diwarnai dengan petir.  Orang-orang tak lagi mempedulikan apa yang dia kerjakan, karena sudah bosan menegur dan mengingatkannya. Tubuhnya, mungkin telah bersahabat dengan hujan karena dia tidak pernah sakit, diserang flu ataupun meriang. Namanya Rania, perempuan bermata sendu yang tidak banyak bicara.
            Sudah menjadi lakon yang dia mainkan, setiap hujan turun maka akan bergegas keluar rumah dan membasahi tubuhnya dengan hujan. Aneh memang, prilaku keluar dari kebiasaan orang banyak. Orang-orang akan berlarian mencari tempat berteduh atau sengaja bersembunyi didalam rumah hanya menikmati hujan dibalik kaca jendela, terkadang juga berselimut tebal memejamkan mata untuk istirahat. Tak setiap orang mengagap hujan itu istimewa.
            Sore itu, langit tampak gelap dan awan berarak-arakan. Kabut pekat merubah warna langit. Tanda-tanda hujan akan turun. Rania, wanita itu sudah duduk di depan rumahnya. Dia menatap langit penuh makna. Lalu dia bergegas pergi, duduk dibawah pohon depan rumahnya. Tak lama, hujan turun. Tubuhnya menyatu bersama rintik hujan.
            Orang-orang hanya akan berbisik membicarakan tingkahnya, ada yang bilang bahwa itu merupakan ritual, ada juga yang bilang bahwa wanita itu tetesan dewa hujan, ada juga yang bilang bahwa wanita lagi mencari ilmu kebal, dan bermacam-macam prasangka lainnya. Menjadi cerita akan sikap dia yang keluar dari kebiasaan.
            “Bersama hujan maka kesedihan itu akan hilang, seperti hujan yang menyapuh debu-debu, membasahi bumi dan menghapus kegersangan. Daun-daun menghijau dan bungapun bermekaran.  Sambutlah hujan maka setiap kali rasa sedih itu datang. Maka semua kepahitan dan kepedihan yang kau alami akan terhapuskan.” kata-kata itu selalu teriang di telinganya. Ucapan wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini, saat  sedang menghibur dirinya yang sedang bersedih. Ibu akan mengajak menatap hujan dan  membiarkan sekali-kali bermain hujan, da air dari langit itu membasuh tubuhnya. Ibunya tak pernah marah,  bila ia berlarian mengintari rumah menyambut hujan. Tapi lakon itu tinggal kenangan. Toh ibunya sekarang telah menyatu dengan tanah, menghadap sang pencipta. Begitu juga sang ayah. Sekarang hanya dirinya menjalani hidup sebatang kara.
            Hanya hujanlah satu-satu alasannya dia terus melanjutkan hidup, setelah berapa kali bisikan hatinya, kemarahanya jiwa pada dunia yang menggerakan dirinya untuk mengakhiri hidup. Tapi setiap hujan turun menyapa bumi, setiap itulah dia akan menemukan kebahagian, dia seolah berdialog dengan kedua orangtuanya. Pesan-pesan yang dia sampaikan bahwa dia harus tegar dan kuat. “Hujan itu datang membawa pekat, awan hitam, kegelapan, halilitar dan badai, tapi setelah itu akan ada kehidupan yang baru. Sungai-sungai akan terisi, pohon-pohon tumbuh. Begitulah setiap hal dalam kehidupan ini. Kejadian yang menyakitkan akan menumbuhkan sebuah harapan baru.”
            Masih segar dalam bayangan, tragedi sore itu yang telah meluluh lantakan kehidupannya. Tiap kali dia mengingat kejadian itu, amarah dalam dada membuncah. Diapun akan menguntuk dunia dan ketidakadilan. Siang itu, matahari bersinar cerah saat dia pulang sekolah, sedang menyatap makanan, sementara ayahnya sedang menikmati secangkir kopi. Sebelum pintu rumahnya digendor, segerombolan laki-laki berseragam  dengan senapan ditangan, menorobos  masuk. Piring yang berada dipegangnya jatuh kelantai. Ibu yang baru selesai sholat, langsung keluar menyaksikan keriuhan. Ayah, berdiri dengan wajah getir tapi tidak ada ekspersi ketakutan disana.
            “Apakah bapak, namanya pak Darman?” dengan nada keras laki-laki itu bertanya dan sorot mata yang tajam.
            Bapak mengaguk  dan menatap laki-laki beseragam yang menodongkan pistol kerahnya.
            “Bapak ditangkap atas tunduhan sebagai ketua jaringan teroris, dan menjadi otak pengboman, di sebuah hotel berbintang satu bulan silam.”
            “Saya bukan teroris pak, saya warga biasa. Saya tak pernah mengbom. Bentuk Bom saja saya tak pernah lihat. Membayangkan saja saya takut.” kata bapak lantang.
            “Diam.. berhenti berkelit. Ayo ikut kami kekantor!”
            “Tidak, saya tidak bersalah. Saya tidak mau kekantor.”
            “Kamu harus ikut atau pistol ini akan melenyapkan nyawamu. Jangan banyak bicara, cepat.” Dia menyeret tubuh tubuh ayah.
            Rania terisak sambil memeluk ibunya. Ayahnya terus melakukan perlawanan dan dia dengan tegas mengatakan tidak mau ditahan. Meski laki-laki berwajah sangar itu memaksanya, tapi bapak tetap berdiri tegak dan tegas mengatakan bahwa dia tidak bersalah.
            “Suami tidak bersalah pak, jangan tahan dia. Dia hanya seorang pembuat pisau. Mana mungkin seorang tamat SMP bisa membuat bom. Sekolah saja untung dapat ijazah.” Jerit  ibu histeris, saat tubuh suaminya ditarik keluar. Rania tak kalah, dia meraung-raung, menarik seragam pria berpistol itu. Tapi tubuhnya terlempar dan tersungkur, saat laki-laki itu mendorongnya.
            “Ayah.ku tidak bersalah.. jangan tangkap, dia.. kalian tidak boleh menangkapnya!”
            “Ibu juga terlibat dari recana pengboman, dan harus ditahan.”
            “Tidak..tidak..saya tidak bersalah pak, bapak salah menangkap orang. Kami cuma peduduk biasa.” isak ibu.
            Tubuh ayahnya tetap diseret-seret,  sekuat tenaga ayah melepaskan  cengkraman laki-laki berseragam tersebut. Saat dia mendengar istrinya juga akan ditahan. Dia berusaha lari untuk mencegah istrinya tapi “door..” bunyi suara pistol, langsung memercikkan darah segar, mengalir dari kepala, dan dada laki-laki tersebut.
            “Aya…h,” teriak Rania.
            “Aku dan istriku Tidak bersalah.” Mata laki-laki itu menutup.
            “Ayah!”
            Ibu langsung pingsan saat melihat suaminya tergeletak, dua peluru telah bersarang di badannya.
            Dia memeluk tubuh ayahnya, tapi laki-laki berseragam itu malah menyeretnya untuk menjauh, sebuah mobil bertank besi, membawa ayahnya beserta ibunya. Diapun terus menjerit memanggil kedua orangtuanya, dia mengejar mobil yang terus melaju dan akhirnya tertunduk sayu penuh kepilu mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.
            Dua minggu dari situ, jenazah kedua orangtua dibawah kerumah. Dan saat itulah semua terasa berhenti, kehidupan dan harapannya. Semua telah hilang dan lenyap dalam sekejap.  
            Kata mereka kedua orangtuanya adalah teroris, begitu juga dunia mengisahkan tentang keduaorangtuanya. Di berita, dikoran, dan di sudut dunia manapun. Cerita itu bergulir. Dan semua menyematkan kata teroris pada orangtuanya.  Tapi baginya orang-orang yang telah merengut harapan hidupnya, mengakhiri kehidupan keduaorangtuanya. Mereka semua adalah teroris. Berapa bulan kemudian berita itu meredup, samar-samar terdengar bahwa laki-laki berseragam itu telah salah tangkap. Tapi dunia seolah egan membicarakan, sampai kisah itupun terkubur begitu saja.
 Ayahnya hanya seorang pembuat pisau dan petani, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan waktunya membuat anyaman terbingkar dan saat sore menjelang ayahnya akan mengajar ngaji anak-anak peduduk desa. Sementara ibu, sibuk didapur. Ayah laki-laki baik yang tak akan pernah terpikir untuk membunuh orang, apalagi mengebom.
            Ayahnya hanya laki-laki sederhana yang mengajarkan banyak hal pada Rania. Dia tak pernah bermasalah dengan orang lain, bertingkah aneh ataupun berbuat hal yang mencurigakan. Bila malam menjelang ayah dan ibu menghabiskan waktu di rumah. Tak pernah terlihat orang yang bertamu. Kehidupan mereka terbilang normal dan baik-baik saja, layak keluarga lain yang penuh cinta kasih. Lalu kenapa mereka diagap teroris. Atas dasar apa ?
 Ayah telah tenang disana begitupun juga ibu. Kisah itupun telah terhapus oleh waktu berganti berita lain. Tapi bagi Rania, setiap kali dia teringat peristiwa itu maka rasa sakit itu menjalar kesekujur tubuhnya. Mengingat tubuh kaku keduaorangtuanya terbungkus kain kafan.
            Untuk mengobati luka tersebut dan menghapus kejadian pahit itu, dia selalu mengahabiskan waktunya bersama hujan. Membiarkan tubuh disapuh, berharap air yang menentes itu akan menghapuskan setiap hal yang menyedihkan dalam hidupnya. Rania dan hujan, hanya dengan hujanlah dia bisa bertahan dan besok masih ada harapan. Sepuluh tahun peristiwa itu berlalu, dan dia tetap bersahabat dengan hujan.
                                                                                                            By Rosella Mecca