Isnin, 10 Oktober 2016

Cerpen : CERITA DI SUDUT DESA By Rosella Mecca



Derap langkah terkayuh bersama sebentik mimpi yang telah  tergerus oleh realita kehidupan. Dalam bimbang aku melangkahkan kaki, dalam diam aku termanggu sepi, dalam dekapan malam aku menjerit menatap malam. Entahlah ada sebuah asa yang mengajal di dalam dadaku.
Rumah munggil berdiri di pingiran sungai Musi. Menampakan wajah letih yang lelah bertarung dengan waktu. Itulah, ibu yang kian rentah dan keriput. Rambut yang memutih menghiasi kepalanya. Membuat hatiku terasa miris. Andai saja, aku bisa bekerja menghasilkan uang, pasti tidak akan merasa bersalah seperti saat ini. Sudah  hampir satu tahun semenjak dari wisuda, tapi aku tetap menganggur.  Aku sudah berkeliling kota memasukan lamaran. Tapi tak satupun yang diterima. Meski sudah mengikuti serangkaian tes tapi lagi-lagi gugur pas  wawancara.
Biaya kuliah mahal tapi mendapatkan pekerjaannya bikin pusing tujuh keliling. Dulu, aku mengira sekolah kesehatan  bisa mudah dapat kerja dan  menghasilkan uang yang banyak. Dengan antusias yang tinggi mengikuti serangkai tes calon mahasiswa. Diantara 4000  peserta tes, aku terjaring masuk 100 siswa yang diterima. Aku  dapat mengalahkan ribuan pendaftar senangnya bukan main.
Lembayung hidupku telah mencapai pada sebuah titik kelemahan. Aku lelah masih belum bisa mandiri. Kenyataan pahit yang harus aku terima. Bagaimana tidak setelah telanjur melangkah, aku menemukan sebuah realita yang membuat  gigit jari. Sekolah kesehatan yang ada di kota Palembang, baik  swasta dan negeri mencapai tiga puluhan. Setiap tahun mengeluarkan lebih dari 80 lulusan. Seandainya dikalikan maka akan mendapatkan hasil 2400 orang yang lulus sekolah keperawatan tiap tahunnya. Sedangkan rumah sakit, klinik dan puskesmas jumlah tetap. Kemana mereka akan menyalurkan ilmu. Menjadi sebuah pertanyaan yang menarik, tumbuh dibenakku sejak berada di tingkat tiga.
 Kade, teman sekamarku saat di asrama merasa kasian dengan nasib yang menimpaku. Berkali-kali  membujuk agar memasukkan lamaran kerumah sakit Maria. Selain gajinya besar dia siap membantu agar bisa masuk  Namun aku berpikir ulang,  bila  masuk kesana secara otomatis harus  melepaskan jilbab. Ada berapa temanku yang sudah duluan melakukan itu. Saat bekerja tidak memakai jilbab tapi  sepulang kerja jilbab dipakai kembali. Memang aku lagi membutuhkan pekerjaan dan uang. Tapi sebuah keyakinan ini sangat mahal harganya, aku tak ingin menjualnya dengan apapun termasuk materi. Bagiku, jilbab punya makna tersendiri.  Bukan sekedar penutup kepala tapi sebuah kewajiban bagi seorang muslim.
*****
Saat senja itu datang, aku menatap langit kelap yang bertabur kabut dibalik jendela.
“Sar, tadi ibu dapat telpon dari nenek, katanya bekerja di kampung saja. Disana  tenagamu sangat dibutuhkan.
“Di kampung bu, memang nenek yang mana ? Bukan nenek sudah meninggal !”
            “Nenek dari orangtua ayahmu,” kata ibu sambil menatapku.
            “Memang ayah punya keluarga ?” tanyaku dengan nada bingung, selama ini ayah dan ibu tidak pernah bercerita atau mengujungi nenek.
            Mata ibu seketika berbinar,  perlahan dia mendekatiku dan mengelus kepala, dia tetap membisu.”
            “Ibu, sebenarnya ada apa?”
            “Nak, ceritanya panjang. Dulu saat engkau masih bayi.  Ayahmu difitnah telah menyebarkan  aliran sesat. Semua bermula, saat dia menolak keras untuk  melakukan sesajen sebagai ucapan terimakasih kepada leluhur. Ayahmu yang keluaran dari pesantren mengerti bahwa  itu adalah   sebuah kesyirikan. Masyarakat yakin, pohon beringin dipinggir sungai, sebagai rumah puyang si jagat penanti. Bila tidak diadakan sesajen maka akan membawa korban jiwa. Ayah terus memberikan pencerahan dan mengajak untuk tidak melakukan sesajen. Lebih baik uangnya untuk dibelikan seseuatu yang bermanfaat untuk menunjang kemajuan kampung.”
“Masyarakat mulai terpengaruh dengan omongan ayah. Mereka tidak lagi memberikan sesajen. Suatu hari ada berapa anak terjangkit penyakit kulit dan dua orang  meningal dunia. Mereka mulai berbalik haluan menetang ajaran ayah.  Ayahmu  mencoba memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa penyakit kulit itu disebabkan  oleh air yang tercemar. Selain itu bisa juga karena kebiasaan penduduk yang sering membuang air besar  di sembarangan tempat, di bawah pohon atau di tengah hutan. Masyarakat yang telanjur percaya dengan hal mistis dan kekuatan batang pohon itu. Mereka kembali melakukan sesajen sebagai tanda ucapan permohonan maaf.  Ayahmu yang gerah  akhirnya dia nekad, selepas sholat isya  bersama dua orang temannya, menebang pohon itu.”
            “Perbuatan ayah memicu kemarahan orang kampung, orangtuanya sangat marah dan geram apalagi posisi bapak sebagai kepala suku. Ayahmu dipukul pakai kayu dan diusir  dari kampung halaman. Selain itu keduaorangtua tidak mau mengakui dia lagi sebagai anak. Kalau sampai  dia masih terlihat di kampung ini. Kakekmu tidak segan untuk membunuhnya. Pada akhirnya untuk mencari aman merantaulah kekota. Itulah sebabnya kenapa ayahmu tidak pernah mengajak kamu pulang kampung.”
            Hanya desahan panjang yang keluar.  Bulu roma bergidik membayangkan cerita ibu. Seandainya aku bekerja dikampung itu,  tidak akan betah. Kepercayaan mereka yang masih kental dengan dunia mistis. Belum lagi sosok nenek yang tampil dipelupuk mataku. Seorang  wanita tua  yang nyiyir dan suka marah-marah. Ini bukan merupakan solusi dari permasalahan ini.
“Jangan takut itu cerita masa lalu,  sekarang keadaan sudah berubah?  Bagaimana kamu mau?”  Sela ibu sepertinya dia bisa membaca jalan pikiranku.
“Bu,  Sari  pikir-pikir dulu.”
Aku masih belum yakin dengan peryataan ibu  bahwa kampung itu sudah benar-benar berubah.
            “Ibu menunggu jawaban, semua keputusan ada  di tanganmu.”
*****
Setelah melewati perenungan berhari-hari. Aku menerima tawaran nenek untuk bekerja disana. Meski rasa was-was kadang hinggap d idalam dada. Terkadang bayangan buruk itu seketika hadir, namun aku terus menyakinkan hati bahwa ini pilihan tepat dan semua pasti baik-baik saja.
            Berat sekali untuk berpisah dengan ibu dan adikku, tapi inilah pilihan yang harus  dijalani. Aku tidak boleh terus-terusan menjadi benalu tanpa menghasilkan apa-apa. Setidaknya disana aku bisa hidup mandiri dan tidak menjadi beban bagi ibuku yang hanya seorang pejahit.
 Aku tak menikmati perjalanan ini. Sepanjang perjalanan hanya memejamkan mata. Sebutir kertas yang aku pegang, berisi alamat dan no telpon yang harus dihubungi bila telah sampai.  Menurut ibu nanti orang suruhan nenek akan menjemputku. Di loket kami akan bertemu.
            Aku berharap semuanya cepat berjalan enam jam sudah terlewati dan  mobil bis akhirnya mendarat di loket. Senja mulai datang,  aku mulai mencet  satu persatu no HP yang tertera dikertas namun tidak aktif .  Aku mulai didera kebimbangan.  
“Kamu Sarinya?” Tanya seorang laki-laki yang memakai baju kemeja. Usianya sudah separuh baya. Kulitnya hitam terbakar oleh matahari, keringatnya satu persatu menetes. Jelas kelelahan yang ada di wajahnya.
“Iya, bapak siapa?”
            “Alhmdulillah , bapak  yang disuruh nenekmu menjemput kamu nak.”
“Ohw,  aku tadi menghubungi bapak tapi tidak aktif,”  keluhku.
“Iya tadi hpnya ketinggalan, untung saja bapak melihat nama Sari ditasmu.”
            Aku melihat sebuah kertas yang tertempel di tas. Nama yang sengaja dipasang oleh ibu agar bila turun nanti tidak tertukar.  Haduh aku menutup muka menahan malu, jadi sepanjang perjalananan tadi orang membaca tulisan itu.”
“Kamu mau makan  nak?”
“Nggak pak, masih kenyang, kita langsung saja kerumah.”
            Sebuah motor buntut melaju menembus senja dengan kecepatan tinggi agar tidak sampai malam di kampung. Bapak itu terus berbicara menceritakan tentang berbagai hal. Aku agak kurang menangkap apa yang dikatakannya, logat bahasa yang sulit dimengerti dan deru motor yang memekakan telinga. Hembusan angin kencang menerpa tubuhku.
 Perjalanan yang melelahkan, rasanya tulang-tulang rontok semua. Sebuah rumah panggung yang diterangi oleh sinar lampu minyak. Terlihat sunyi dan sepi. Ternyata listrik belum masuk di desa ini. Dua wajah yang masih gagah mengulas seyum  dibawah tangga dan memeluk tubuhku. Nenek dan kakek tubuhnya masih sehat dan bugar.  Giginya masih bersih dan terlihat masih lengkap. Padahal kalau aku menerka usianya diatas 60 tahun. Aku awalnya tidak percaya bahwa itu nenekku habis usianya lebih mirip ibu. Tapi setelah bapak yang mengantarkan mengatakan bahwa itulah nenek dan kakekku.
            Nenek dan kakek menyambutku dengan hangat. Perkiraanku  jauh meleset segala sesuatu telah dipersiapkan sebuah kamar yang tertata dengan rapi. Aroma pandan dan melati memenuhi sudut kamarku. Aroma wewangian yang sangat aku sukai dan menjadi therapy rileksasi.  Aku melepaskan lelah setelah sholat isya dan tanpa sempat bersenda gurua atau berbasa-basi langsung terlelap.
            Saat fajar menyising sebentuk tubuh mengelus kepalaku. Tubuhku menggeliat membuka mata, bersama itu aku mendengar saut-menyaut asma Allah yang berkumadang. Setelah kesadaranku pulih, ternyata sosok  nenek, tempat berada di kepalaku. Dia sengaja membangunkan  untuk sholat shubuh. Sebenarnya masih letih namun aku beranjak untuk membasuh muka menghadap sang khalik.
             Di balik jendela, aku melihat kakek dan nenek melakukan aktivitas. Nenek menumbuk padi sedangkan kakek mencangkul tanah. Mungkin ini salah satu rahasianya kenapa tubuh mereka terlihat masih bugar. Pagi-pagi sudah melakukan olahraga  otot. Benar apa yang dikatakan ibu, keadaan telah jauh berubah.
             Suara dentemunan padi yang ditumbuk saut-menyaut. Mungkin para wanita  di desa ini melakukan aktivitas yang sama. Hawa dingin membuatku menarik napas berkali-kali dan menikmati manisnya O2.
            Di meja makan tersedia buah-buahan. Seduhan  teh yang dicampur dengan jahe yang dibuat oleh nenek. Aromanya wangi. Pas sekali menghangatkan tubuh. Nasi jagung dan sayur hijau terhidang juga. Sebuah kenikmatan yang tak aku rasakan di kota. Kalau lama-lama aku disini  bisa awet muda dengan gaya hidup seperti ini.
            Hari ini aku mulai berkenalan dengan penduduk kampung ditemani oleh nenek. Halaman rumah mereka penuh dengan tumbuh-tumbuhan hijau. Mereka menyambut dengan ramah dan sangat bersahabat sekali.  Rasanya aku malu menjadi seorang perawat, prilaku mereka  jauh lebih sehat daripada pola hidupku mereka terlihat bugar-bugar.  Tidak ada tanda-tanda kurang gizi.
            Seminggu disini aku mulai merasa nyaman dengan kehidupan.. Meski belum ada lampu. Memang dari segi teknologi sangat tertinggal tapi dalam segi tata cara hidup mereka lebih maju dari orang kota. Aku perlahan-lahan mulai belajar dari mereka yang dekat dengan alam.
            Berangin-angin di pelantaran depan rumah sambil menikmati ufuk timur yang menguning. Nenek menawarkan rembusan air mengkudu yang dicampur dengan madu. Aku bergidik ngeri membayangkan meminumnya. Tapi mereka meminumnya dengan nikmat sekali, akhirnya aku ingin mencoba. Rasa pahit dan manis madu.
            “Enaknya nek, meski rada-rada pahit?”
            “Kamu belum terbiasa saja minum air rebusan mengkudu ini, khasiatnya sungguh  memperkuat sistem imun, pegal-pegal, darah tinggi dan bermacam penyakit tidak mau mendekat.”
            “Tumbuh-tumbuhan hijau itulah sumber kesehatan. Lihat tubuh kakek dan nenek tetap kekar dan terlihat sehatkan. Rahasianya adalah makanan yang masuk kedalam tubuh nenek semuanya alami. Seratus persen berasal dari alam. Karunia sang pencipta tuhan semesta alam yang wajib untuk kita manfaatkan  dan disyukuri.” Sela kakek menimpali.
            Apa yang dikatakan kakek benar tumbuh-tumbuhan adalah apotik hidup. Kebiasaan yang sering makanan instant, banyak terpajan zat kimia melalui makanan. Maka tak heran zama sekarang banyak terserang penyakit aneh seperti kanker. Bandingkan orang-orang tua zaman dulu usia harapan hidupnya lebih panjang sampai diatas 100 tahun  bandingkan dengan dunia sekarang paling bater usia 60tahun.
            “Aku setuju kek, Sari mau tanya sesuatu bolehkan?”
            “Mau tanya apa cucuku?”
            “Kakek belajar darimana semua ini?”
“Dulu didesa ini ada  seorang tabib yang tersesat. Kebetulan sekali saat itu kampung ini sedang terjangkit  penyakit kulit yang tak kunjung  sembuh. Dengan ramuan yang dia buat. Secara perlahan-lahan penyakit kulit yang menjangkit masyarakat itu sembuh. Tabib itu selain mengenalkan tumbuh-tumbuhan sebagai dewanya kesehatan. Tabib itu juga mengajarkan bagaimana cara bercocok tanam yang benar. Tidak menggunakan zat pestisida yang dapat merusak kualitas tanaman dan tanah. Selain itu dia juga mengajarkan ilmu agama kepada kami. Secara perlahan penduduk desa mulai mengerti. Mengamalkan apa yang diajarkan sampai sekarang. Tabib itu pergi tanpa kami ketahui. Semenjak saat itu kakek merasa bersalah dengan bapakmu.  Tapi rasa egois masih terlalu tinggi untuk memintanya kembali pulang, saat itu. Semua terlambat bapakmu sudah dipanggil tuhan.” Bulir-bulir airmata membasahi pipinya.
 “Itu alasan kenapa kami ingin sekali kamu pulang. Dengan cara ini nenek dan kakek melepas rasa kangen kepada bapakmu.” Katanya lirih.
 Aku mendekap tumbuh kakek yang ada disampingku.
            “Aku sayang sama kakek dan nenek, aku janji akan menemani kalian,” aku berkata setengah berbisik di telinganya
            Secara perlahan tapi pasti aku sudah mulai menyatu dengan kehidupan . Sebuah aroma wangi dan masih alami aku temukan disini. Sebuah rasa yang indah yang tak terukir dalam hidup menjadi wewangian malamku. Seyum mereka bersama putaran poros bumi. Disini aku mulai menjemput mimpi mempelajari tentang alam dan apa yang bisa aku tawarkan kepada dunia yaitu obat herbal warisan nenek moyang.
*****
By : Rosella Mecca

Tiada ulasan: