Rabu, 6 September 2017

Aku Bersama Tere Leye




Siapa yang tidak kenal dengan Tere leye. Penulis ternama yang semua karyanya megabest seller. Bahkan angin burung yang kudengar bahwa untuk satu novel bisa meraup untung ratusan juta bahkan mencapai satu  milyar. Itu tentu penghasilan diluar  seminar, kontrak film dan lain-lain.
                Kemarin saat mendengar kabar bahwa beliau memutuskan untuk tidak mencetak buku lagi. Tertarik untuk mencari info dan kebenarannya. Benar adanya. Isu ini sudah lama terhembus. Dan aku baru tahu kemarin. Pas lagi heboh-heboh dan hangat-hangatnya. (Maklum aku salah satu penggemar novel tere leye. Sudah menjadi pengikut fansfage sejak fansfage tere leye masih ribuan jumlahnya. Tujuh tahun silam. Salah satu orang yang sedih saat nggak bisa menikmati karya beliau dalam versi cetak.)
                Sebagian orang ada yang mengatakan “Ah! Ini sekedar sensasi.” Tapi entahlah, aku tak percaya itu, Bang tere leye melakukan ini untuk sebuah sensansi atau biar buku bisa lebih terjual mahal. Untuk apa toh? Bukan buku yang lahir dari jemari beliau selalu mendapatkan sematan mega best seller.
                Pernah aku bertanya dalam hati. Kenapa bang tere leye bisa menjadi penulis terkenal? Padahal dia cuma punya fansfage. Ternyata satu jawabannya. Dia menulis dengan hati. Dia menulis bukan untuk tenar atau terkenal. (Terkadang  menampar diri sendiri)
                Tuhan tak pernah salah pilih. Benar adanya. Bang tere leye yang diam-diam menyedekah hampir sebagian besar royalati.  Tak pernah terekpos ke public. Memilih hidup senderhana. Tetap bekerja meski sebenarnya hasil royalati sudah mampu mencukupi hidupnya.
                Lalu kalau ada undang di balik batu atas tindakan beliau menghentikan menerbitkan buku. Itu pendapat yang terlalu mentah dan tak berdasar.  Apalagi pemberhentian karya beliau hanya sebuah  sensansi.
                Menurutku apa yang beliau lakukan merupakan bentuk protes. Iya protes kepada pemerintah. Lalu yang jadi pertanyaan. Kenapa harus beliau?  Kalau pendapatku karena dia salah satu penulis ternama Indonesia. Setidaknya suaranya akan mudah d dengar oleh pengambil kebijakan. Dibandingkan saya  (misalnya) yang belum ada apa-apa. Mau berteriak pakai toak nggak ada yang peduli. Lihatlah saat bang tere leye yang melakukan aksi protes. Lihat isu terangkat kepermukaan. Padahal isu pajak  yang mahal sudah dari dulu. Biasa isu ini akan mencuat saat hari buku dunia. Tapi esoknya isu akan meredup.
#Akubersamatereleye

Tiada ulasan: