Jumaat, 8 April 2016

REVIEW BUKU : AKIK DAN PENGHIMPUN SENJA




Judul                          : Akik Dan Penghimpun Senja
Penulis                        : Afifah Afra
Penerbit                      : Indiva
Jumlah halaman        : 322

Akik dan Penghimpun senja ini,  memuat nilai eksotis tentang gua, pertualangan, tentang batu akik yang bertuah,  mistis serta ada sisipan nilai sejarah Majapahit. Novel ini kaya dengan diksi yang indah, alur cerita yang tidak menjemukan, meski tema cerita sederhana ramuannya membuat cerita hidup dan istimewa. Setting yang dipaparkan detail sehingga bisa terbayang di pelupuk mata. Bila, novel ini di filmkan mungkin visualisasi akan lebih seru dan menegangkan. Endingnyapun aku sukai, cukup mengejutkan karena terbawa akan cerita  mengira makhluk halus, tapi ternyata perbuatan Gunadi sang dukun.  Tapi ada berapa tokoh yang sebenarnya hanya sekedar penghias , peramai  muncul sesaat.
Fahira akan melakukan sebuah penelitian, tapi dia bukanlah seorang pencinta alam. Dia membutuhkan tim Mapala untuk memuluskan recananya. Anton sang ketua, terkenal cuek, galak, kuliah hanya sekedar menjeng, kerjaan keluyuran ke alam bebas ditambah dengan  kejadian yang kurang baik antara Fahira dan Anton. Membuat dia bersikeras tidak mau membantu Fahira. Tanpa Anton tim mapala tidak bisa bergerak ,dialah yang mengetahui seluk beluk gua dengan detail.  Fahira sempat putus asa, apalagi dengan kata-kata kasar Anton.
“Aku ngak bakalan ikut, jika kucing kecil ini tetap ikutan ekspedisi. Tak peduli dia bos atau babu !” sambil mengeram seperti ayam jago baru kalah bersabung, Anton meraih tas ranselnya dari atas meja, mencangklongnya dan beranjak pergi. Namun sebelum langkahnya meninggalkan ruang, Jaka buru-buru menarik tangannya.” (hal, 37)
Rinati bersuamikan seorang Gunardi yang kerjaannya bersemedi di gua berbulan-bulan meminta petuah dari batu akik. Sejenis pengasihan bagi yang mau mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Namun persemedian merasa terganggu karena alam tidak sealami dulu telah terjama”ah oleh tangan manusia. Gundari menyadari bahwa semakin hari kekuatnya semakin berkurang. Dia murka pada parawisata dan turis asing. Sedangkan Rinati mengharapkan suami menjadi manusia normal pada umumnya, hidup sederhana berjualan es kelapa, bukan menjadi seorang dukun.
“Ada sesuatu yang sepertinya memudar dariku,” desah Gunadi. “Kesaktiannku, seperti hilang hampir separuhnya. Aku tak pernah berhasil memasukan tuah ke cincin-cincin akik dan pusaka-pusaka itu sebaik yang pernah kulakukan sebelum-sebelumnya, Dan ini sangat meresahkanku.” (hal, 107)
Anton akhirnya mau juga membantu Fahira. Pertualangpun dimulai menyusuri sebuah gua. Fahira tampak begitu takjub, mereka berkeliling mengintarai lorong-lorong gua. Jiwa Anton tertantang saat melihat celah sempit. Diapun memanjat, matanya begitu kagum dengan pemadangan yang ada diatasnya. Fahira yang mendengar gumanan Anton memutuskan untuk ikut terjun kedalam. Mereka terjebak di sana, karena penunjuk di dinding  ada yang mencopoti. Mereka hanya muter-muter tanpa tahu jalan keluar.
“Kami melangkah, terus melangkah, dan memasuki labirin yang memusingkan. Namun lorong air itu tak juga kami temukan. Sekitar satu jam, akhirnya kami memasuki sebuha chamber keci. Cahaya headlamp menyorot ke sebuah batu besar. Dan aku tercenagng, melihat selembar kertas yang ditindih dengan batu keci. (Hal, 224)

Tiada ulasan: