Ahad, 3 April 2016

REVIEW BUKU : SAHABATMU KEKUATAN JIWAMU



Judul                          : Sahabatmu Kekuatan Jiwamu
Penulis                        : Rizem Aizid
Penerbit                      : Diva Press
Jumlah halaman        : 216

            Saat berjalan-jalan  ketoko buku, mata langsung tertuju pada buku ini. Mungkin karena judul yang begitu gede dan menarik. Secara keseluruhan isi dari buku ini sangat bagus, penulis menunturkan dengan bahasa yang ringan, sederhana dan tidak mengurui. Bagian yang paling kusukai adalah pada kata mutiara tentang sahabat.  Buku ini juga memamparkan cara kita mencari  sahabat baik. Betapa beruntung bila kita memiliki sahabat. Seperti yang tertulis dalam buku ini hanya teruntung jari. Tak semua orang mengelilingi hidup, dan menghabiskan waktu bersama  bisa dibilang sebagai sahabat. Sahabat berbeda dengan seorang teman , posisi jauh lebih tinggi sederajat dengan keluarga.
“Cintai sahabatmu itu dengan segenap jiwa ragamu, seakan-akan kamu mencintai sanak saudaramu sendiri. Sahabat yang baik adalah yang sering sejalan denganmu dan menjaga nama baikmu saat kamu masih hidup ataupun setelah kamu mati.” (hal, 46)
            Sahabat adalah orang yang mengulurkan tangan saat terjatuh agar membuatmu bangkit kembali,  menjadi motivasi agar melangkah maju kedepan,  memberikan tisu untuk menyeka  airmatamu, berbicara terang-terangan dihadapanmu tapi menjaga nama baik dikeramainan dan dibelakangmu. Memberikan pundak untuk saling  menguatkan, bisa jadi orang pertama yang mendengarkan keluh kesahmu.  Mempersembahkan seyum yang tulus atas keberhasilanmu. Dia tak akan pernah menelan mentah-mentah info tentang dirimu, karena dia mengenalmu  sebagaimana dia mengenal dirinya sendiri. Maka dari itu, sosok sahabat sangat istimewa, dia akan selalu ada bersamamu pada kondisi apapun. Berbagi suka dan duka, tertawa dan menangis bersama.
            Bila kita berharap memiliki seorang sahabat dalam hidup, maka kitapun harus memposisikan diri sebagai sahabat bagi orang lain. Sejatinya ada hukum timbal balik, apa yang dilakukan itulah yang akan diterima.
            “Jangan sampai dalam persahabatan itu terjadi hubungan satu arah. Misalnya, ia selalu memperhatikan kepentingan kita, sementra kita tidak pernah memperhatikan kepentingannya. Bila hal itu terjadi, maka kita tidak mengagapnya sebagai seorang sahabat. Karena persahabatan sejati dapat terjalin bila kita saling memperhatikan kepentingan masing-masing. Bukan egoistime semata.” (hal, 77)
            Tak semua orang atau teman bisa dijadikan sahabat, kitapun bisa menilai dan memilah dengan menggunakan akal. Seseorang yang tulus selalu berada dalam suka dan duka hidupmu. Tak segan mengulurkan tangan membantu tiap persoalan. Seorang yang turut menitikan airmata saat kesedihanmu bukan dia yang tertawa bahagia saat melihat engkau terjatuh, dia yang berusaha menutup aibmu dan tak berhenti mengingatka untuk selalu berbuat baik. Maka itulah sahabat sejati.
            “Tetapi percayalah, sahabat sejati adalah orang yang dengan tulus dan ikhlas membantu kita keluar dari kesedihan itu. Ia tidak hanya berpura-pura menanyakan perihal kesedihan kita, tetapi juga memberikan nasihat atau saran yang dapat membebaskan kita dari kesedihan. (Hal, 120)
            Bila mendapatkan seorang sahabat karib atau baik, maka jagalah selalu tali persahabatn tersebut. Jangan pernah luntur dan termakan oleh waktu karena tidak setiap masa dalam kehidupanmu engkau bisa menemukan sahabat. Mendapatkan seorang teman itu sangatlah mudah tapi mendapatkan seorang sahabat itu sangatlah sulit. Maka kehilangan seorang sahabat jauh lebih menyedihkan daripada kehilangan seratus teman.
            “Berharaplah engkau mendapatkan sahabat sejati yang tak luntur baik dalam keadaan suka ataupun duka. Jika engkau dapatkan berjanjilah dalam hatimu untuk selalu setia padanya.” (hal, 45)
           

Tiada ulasan: