Rabu, 6 April 2016

Review Buku : Terusir




Judul                          : Terusir
Penulis                        : Hamka
Penerbit                      : Gema Insani
Jumlah halaman        :132
Antara  nyata dan khayalan dalam sebuah novel hampir tidak ada sekatan, bagaimana lahirnya sebuah tulisan tersebut dari pengamatan atau realita yang ada di lapangan lalu diolah otak bersama imajenasi yang tertuang.  Angkatan pujangga lama dan baru serta balai pustaka, karya seperti novel yang mengangkat tema tetang kentalnya sebuah adat istiadat yang mengekang, kasta antara laki-laki dan perempuan, tentang peperangan, norma sosial serta prilaku masyarakat pada saat itu menjadi sorotan tajaman. Bagitulah sekira novel terusir ini tertuang, lewat jemari Hamka. Penulis legendaries Indonesia salah satu karya sangat  fenomena adalah tenggelamnya kapal van  der wijck.
Novel ini berkisah tentang Mariah yang haus terusir dari kampung halamannya dan dicerai oleh sang suami karena hasutan dari pihak keluarga.  Pihak keluarga yang tak suka dengan Mariah karena dia berasal dari keluarga biasa sedangkanAzhar dari keluarga terpandang. Keluarga Azhar menyusun berbagai recana dan mengatur berbagi strategis, sehingga terjadi petaka tersebut. Mariah yang hidup sebatang kara, bingung harus menginjak kaki kemana. Kepedihannya bertambah saat teringat anal yang  ditinggalkan.
“Yang lebih lagi mengharu-birukan pikirannya ialah percerainan dengan anaknya. Wajah anaknya yang mungil senatiasa terbayang di ruang matanya.Kerap kali ia terbangun dari tidur tengah malam, serasa-rasa kedengaran anaknya memanggil ibu.” (Hal, 23)
`           Mariah menyeret langkah ke ibu kota semula menumpang ketempat teman ayahnya sambil berusaha menghubungi suami dan menjelaskan duduk persoalan. Berbulan-bulan dia mengirim surat. Tapi tidak ada hasil. Mariah akhirnya bekerja menjadi pembantu rumah tangga setelah tidak ada lagi yang dia bisa lakukan.  Azhar menyadari kekeliruan selama ini dam sadar telah melakukan kesalahn. Diapun mencari Mariah yang telah di bawah majikan kepulau seberang.
“Sehari selepas surat itu diterimanya, dimulainyalah mencari dimana gerangan bekas istrinya itu. Disusun dan  diupahkan orang-orang yag tahu seluk-beluk kota Medan, ditanyakan ke Siantar, Tanjung Balai, Kisaran dan Bardan, satupun  tak ada laporan yang menyenangkan hati.” (Hal, 35)
Novel ini memang  tipis dan sederhana. Tapi banyak menyimpan pesan moral  yang tak lekang oleh waktu. Mungkin kisah ini ditulis puluhan tahun silam tapi tetap bisa dinikmati sampai sekarang. Itu menandakan bahwa novel itu tak lekang oleh waktu dan perubahan Dalam setiap lini masa dia selalu hadir menemani para pembaca.

Tiada ulasan: