Selasa, 5 April 2016

Review Buku : Sejak Awal Kami Tahu Ini Tidak Akan Pernah Mudah




Judul                          : Sejak Awal Kami Tahu Ini Tidak Akan Pernah Mudah
Penulis                        : Sisimaya
Penerbit                      : Diva Press
Jumlah Halaman       : 268
           
Meraih mimpi dalam hidup tak semudah membalikan telapak tangan, mungkin benar adanya. Beragam kerikil, angin, badai, ombak serta halilitar akan menemani. Sama seperti melakukan perjalanan yang kadang menemukan tanjakan, lubang, kelokan dan tak akan selalu semulus jalan tolol sehingga sampai pada tujuan. Demikianlah cerita yang tertuang dalam novel ini. Saya sebagai pembaca terhayut dalam alur cerita, perjalanan Bayu dan Agus dalam mewujudkan impian. Penulis berhasil memberikan sebuah energi postif kepada pembaca. Terkadang kita harus keluar dari zona nyaman dalam meciptakan peluang. Bukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri tapi lebih kebermanfaatan bagi orang banyak, itulah sejatinya hidup. Setting pada novel ini cukup detail, tapi ada berapa tokoh yang sekedar numpang lewat saja. Tapi itu semua tidak mengurangi dari kekerenan novel ini. Secara tema, pengemasan dan diksi apalagi pada bab awal sudah mengaduk-aduk emosi meski pada ending menurut saya agak kurang geregetan.
            Karier yang cemerlang dengan recana hidup yang tersusun didalamnya tentu dengan melewati pendaki yang tidak mudah sehingga dia bisa sampai pada titik itu.  Harus Agus rela lepaskan, demi tawaran dari kakaknya untuk kembali kekampungan halaman. Hati kecilnya samasekali tidak bisa menolak. Untuk membantu membangun  mimpi baru bersama kakaknya yaitu pabrik gula. Kakaknya, Bayu memiliki misi khusus yaitu untuk membangun desanya agar para petani bisa menjual deresan nira, tanpa perlu melalui proses pengolahan dengan harga yang tinggi.
            “Aku memadang dalam-dalam mata kakak angkatku itu. Tampak kesungguhan dan ketulusan disana. Dia memang benar memikirkan nasib ratusan pengrajin  gula kelapa di daerah kelahiranku. Terlihat betapa seriusnya dia memikirkan keuntungan yang diperoleh penderes  ketimbang memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri.” (Hal, 58)
             Agus dan Bayu memulai semua dari nol. Tentu dengan beragam kendala yang harus mereka lewati. Dari kendala teknis sampai petani Nira yang tiba-tiba tidak ingin menjual. Tak hanya itu, beragam pengorban harus mereka lakukan selain dari keluar zona nyaman . Saat Bayu harus kehilangan sang cabang bayi karena istrinya terlalu kecapekan. Uang tabungan mulai menipis sedangkan produk gula cair  terkendala proses pemasaran. Lika-liku perjalanan itu harus mereka lewati. Selalu ada akhir dari setiap perjuangan, akan ada buah. Apa yang kita tanam itulah akhirnya kita tuai. Untuk mendapatkan sebuah buah dari tanaman,  tentu harus melewati proses  menjaga dan merawat yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan.
            “Aku memadangi pabrik gula mini rancangan kakak angkatku dengan sedih. Apa iya kami harus gagal karena masalah pemasaran ? Apa ita pabrik ini harus berhenti beroperasi justru disaat ia baru saja mulai? Apa iya impian menjalankan pabrik gula ini harus berhenti sampai disini ?” (Hal,190)
            “Saya yakin produk ini akan punya angka penjualan yang bagus di Amerika Serikat.Produk ini unik.” Ben mengosok-gosok kedua telapak tanganya.” (Hal, 213)

Tiada ulasan: