Ahad, 22 Mei 2016

CERMOV : IBU, CITA-CITAKU MENJADI ORANG KAYA



Kali saya akan menulis CERMOV (cerita motivasi) buat blog ini. Tema kesehatan, review buku sudah memenuhi. Biar memiliki variasi dan agar pembaca tidak bosan, kali ini judul ceritanya “Ibu,  cita-citaku menjadi orang kaya.”
            Semilir angin sepoi-sepoi menyapa, seorang wanita paru baya dan gadis kecil yang berusia sekitar 10 tahun, mereka sedang menikmati senja. Ayunan yang bergoyang pelan, mengikuti irama angin, mengerakan tubuh mereka. Rutinitas harian yang selalu mereka lakoni. Setelah hampir seharian berpeluh keringat mencari sesuap nasi dan sang anak yang sibuk menguras otak menuntut ilmu. Untuk sejenak mereka melepaskan penat dengan menikmati pergantian senja. Sebelum malam datang menyapa dan ibunya kembali kerutinitas menyiapkan jualan untuk besok pagi dan anak sibuk belajar.
“Nak, apa cita-citamu?”
Gadis kecil itu, sejenak  menghela napas dan mengalihkan padangannya dari langit. Lalu menatap wanita yang ada disampingnya.
“Ibu, aku ingin menjadi orang kaya,” katanya pelan.
Sedikit terhenyak mendengar perkataan anaknya, bukan menjadi dokter, insyiur, pramugari, pengusaha atau mungkin pelukis. Padahal sang anak memiliki hoby menggambar, seharusnya anak cita-cita menjadi pelukis terkenal dan ternama. Dia mencoba menyelami pemikiran anaknya, tak ingin membantahnya.
“ Kenapa ingin menjadi orang kaya?”
“Ibu, bila nanti aku menjadi orang kaya. Aku ingin menciptakan  seyum di wajah orang-orang.”
“Bagaimana bisa?”
“Sewaktu aku membantu ibu di pasar,  melihat seorang pembeli yang  mengotot menawar harga, daripada tidak laku akhirnya dijual itu sayur. Aku menatap wajah penjual itu tampak tertekuk penuh kesedihan. Saat dia membereskan jualannya, ada seorang pembeli tanpa menawar harga dan uang kembaliannya untuk si pedagang itu. Seketika, wajah yang kusut tadi terseyum semuringah, bersama lantunan doa yang terlotar dari mulutnya. Begitu juga yang terjadi pada si pengamen yang tertunduk sayu, saat tak mendapatkan uang receh.  Saat seorang bapak memberikan selembar uang, dia langsung seyum kegirangan dan melonjak-lonjak. Ibu, itulah kenapa aku ingin bercita-cita menjadi orang kaya. Aku bisa membeli sesuatu tanpa harus menawar, bisa mengeluarkan uang dari dompet tanpa harus berpikir sayang. Seperti orang berduit yang belanja di mol. Bisa membuat seyum di wajah orang-orang. Bukan ibu yang mengajarkan bahwa ciptakan seyum di wajah orang lain.”
“Anakku,” sambil berkaca-kaca dia mengelus kepala sang anak sambil mendoakan dalam hati, semoga nanti kamu menjadi orang sukses nak.

Tiada ulasan: