Rabu, 18 Mei 2016

REVIEW BUKU : GARNISH BY MASHDAR ZAINAL



Judul buku                : Garnish
Penulis                        : Mashdar Zainal
Penerbit                      : De teens
Jumlah Halaman       : 220
           
            Saat jalan-jalan ke toko buku, setelah lirik sana-sini mencari buku yang menarik. Mata tertuju pada buku ini. Dari sisi judul novel ini sangat memikat dan menimbulkan pertanyaan dibenak, apalagi sepotong sinopsis di belakang cover menandakan buku ini memiliki cerita yang unik.
            Dua anak manusia, Anin dan Buni memiliki permasalahan yang sama. Keduaorangtua yang mengengkang dan mengikat masa depan mereka. Sisi kehidupan mereka diatur dengan sedemikian rupa. Membuat rasa pemberontakan itu muncul. Mama Buni yang tidak pernah menyetujui Buni untuk menekuni keahlian memasak beralasan itu profesi seorang perempuan. Sedangkan Anin, ayahnya  melarang dia melukis karena diagap pekerjaan pengangguran. Saat kehendak mereka dilarang, saat suara hati dan keinginan tidak didengar. Mereka akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah. Takdir mempertemukan mereka berdua, disebuah taman kota, saat mereka meninggalkan rumah dengan kemarahan. Terjalin persahabatan dan merekapun secara bersama merajut mimpi.
            “Untuk meraih sesuatu yang kau inginkan terkadang kau harus berdarah-darah. Mimpi dan cita-cita adalah seseuatu yang tersimpan di ketinggian. Untuk mendapatkannya kau harus melakukan pendakian. Kau akan melewati jalan-jalan yang berbatu, jurang-jurang yang curam, ceruk ngarai yang dalam, sebelum sampai di puncak tertinggi dan mendekap mimpi-mimpimu. (Hal, 198)
            Meski tema cerita sederhana tapi penulis mampu mengemasnya, sehingga saya sebagai pembaca tidak bosan dan ingin terus membaca sampai ending.  Tidak seperti cerita pada umumnya kayak dalam sinetron, disini lebih banyak pesan moral dan nilai yang disampaikan penulis. Konflik ceritanya dibuat serealitis seperti dalam kehidupan sebenarnya, tidak dibuat-buat atau lebay. Alur ceritanyapun bisa diikuti dengan baik.
            “Aku merasa bahwa kebahagiaan yang sempurna tidak terletak pada mimpi-mimpi yang berhasil kau raih, tapi pada proses bagaimana kau meraihnya. Seperti seorang pendaki yang ingin mencapai puncak gunung, perjalanan yang ia lampaui tentu jauh lebih berarti dan memberinya pelajaran ketimbang ketika ia telah berdiri di puncak tertinggi.” (Hal. 218)

Tiada ulasan: