Khamis, 19 Mei 2016

REVIEW BUKU BIDADARI YANG MENGEMBARA BY A.S LAKSANA



Buku ini memiliki  dua belas cerpen, masing-masing memiliki kekhasan tersendiri meski tema utamanya mengangkat kehidupan wanita. Cover buku yang berwarna pink mengambarkan dengan jelas sisi perempuan.
            Pada judul cerpen mengambar ayah, seorang anak yang tidak pernah mengenal siapa ayahnya.  Ibunya  yang memperlakukan dirinya dengan semena-mena. Dia anak yang terbuang, sama sekali tidak diharapkan. Kehadiranya kedunia ini diagap sebagai monster. Diapun memiliki hoby menggambar wajahnya ayah, ditembok-tembok sampai dia diagap orang gila.
            “Ibu tidak pernah memperkenalkan benda yang bisa dipanggil bapak kepadaku. Seandainya suatu hari ia membawa seorang laki-laki dan bilang bahwa lelaki itu adalah bapaku, aku akan sangat berbahagia.” (hal, 7)
            Cerpen dengan judul buldoser merupakan suara hati, sebentuk gambaran kehidupan di negeri ini. Alit harus menghapus cita-cita untuk menjadi dokter, sedangkan ayah berusaha menjadi kepala keluarga yang baik, meski hantaman buldoser menghancurkan rumah mereka. Mereka pindah kerumah kakek, saat Alit SMA, rumah yang mereka bangun harus digusur untuk ke sekian kalinya. Terakhir saat ayah meninggal dunia, kuburannya akan digusur karena pembangunan. Alit menatap nanar, sampai meninggalpun ayahnya harus dikejar-kejar buldoser.
            Sedangkan pada cerpen telpon dari ibu, menceritakan kerinduan seorang ibu kepada anaknya. Ibu yang telah pikun sering menelpon anaknya menanyakan hal-hal masa lampau. Kerinduan seorang ibu yang tak pernah bisa melepaskan kepergian sang anak.
            Penulis sepertinya senang menamai tokohnya dengan nama Alit. Cerpen-cerpen dalam buku ini sarat dengan pesan moral dan nilai sosial, dikemas dengan begitu apik. Jelas tampak bahwa jam terbang seseorang dari karya yang dihasilkan.

Tiada ulasan: