Selasa, 29 September 2015

Kita tak pernah tahu, usaha ke berapakah dari impian itu akan berbuah



Bila hari ini kita masih kecil, tak ada makhluk hidup di dunia ini yang tiba-tiba besar. Tapi ada tahapan yang dilewati sehingga bisa berkembang. Yang perlu dilakukan hanya bergerak dan terus bergerak. Setiap bis punya halte tempat berhenti. Sebagai  analogi  kita adalah penumpang yang menunggu bis tersebut. Ditengah panas terik, haus, dahaga dan lapar membuat tidak kuat dan memutuskan untuk berbalik kebelakang. Kita tak pernah tahu, mungkin selangkah dari kepergian itu bis  datang dan  hanya bisa menatap dari kejauhan. Menyesali andai bersabar sedikit, mungkin saat ini sudah berjalan. Bersabar kunci dari keberhasilan karena tak ada yang sia-sia dari sebuah cucuran keringat.
            Bila hari ini belum memiliki pohon yang berbuah, terus untuk merawat dan memberi pupuk. Memastikan terhindar dari hama dan rumput liar. Menyirami sepanjang waktu. Pada waktunya nanti pohon itu akan menghasilkan buah ranum nan lebat. Siapapun yang melihat pasti berdecak kagum dan berkata kok bisa.
Bila kali ini kita berada pada titik perjuangan, lagi membangun sesuatu maka teruslah untuk berjuang. Air selalu memiliki muaranya tempat berhenti. Begitu pula dari usaha yang tengah dilakukan. Entah dititik mana pemberhentian itu akan terjadi. Thomas alva edison penemu bola lampu, bila dia menghentikannya percobaan pada titik ke 999. Mungkin dunia tidak akan seterang saat ini. Pada titik ke 1000 lah keberhasilan itu dia gegam. Kegagalan demi kegagalan sejatinya adalah pemicu untuk melangkah lebih keras lagi.  kegagalan itu akan menempah diri menjadi lebih bernilai.  Dari kegagalan itu kita akan belajar untuk memperbaiki kesalahan. Kita tak pernah tahu, usaha ke berapakah dari impian itu akan berbuah

Tiada ulasan: