Jumaat, 22 Julai 2016

Sepotong kisah : Menulis Mengabadikan Nama





Tak ada yang abadi didunia, semua akan pergi dan mati. Terkubur  dan menyatu bersama tanah. Tapi ada sebuah keabadian yaitu nama yang tertulis. Maksudnya nama yang tertulis adalah nama yang terkenang sepanjang waktu dan masa. Jazad boleh pergi, tapi sebuah nama tak akan pernah mati. Untuk membuat nama yang tertulis,tentu kita harus memiliki karya atau melakukan sesuatu misalnya menemukan sesuatu hal.
Penemu bola lampu, sampai sekarang namanya masih terdengar meski orangnya telah meninggal dunia ratusan tahun lalu. Penemu telpon, penemu computer dan penemu-penemu yang lai,  nama masih abadi dalam ingatan. Bila kita tidak telahir memiliki kecerdasan  seperti mereka miliki. Kita bisa mengabadikan nama kita lewat menulis. Kartini dikenang karena sebuah tulisan. Bunya hamka masih tetap diingat karena tulisan yang beliau lahirkan.
Menulis, salah satu cara mengabadikan nama meski jazad telah tiada. Menulislah apapun bentuknya selagi memiliki manfaat. Menulis dan menulis agar bisa mengabadikan lewat karya. Bila membaca adalah jendela dunia, maka menulis adalah cara melukis dunia.  Dengan menulis kau memiliki kanvas sendiri. Kau memiliki cara sendiri untuk melukis dunia, oleh sebagian orang hanya dipadang lewat mata tapi kau bisa menerjemakan lewat kata.
Abadikan namamu lewat goresan pena yang kau mainkan. Jadikan apa yang kau lakukan menjadi amal jariyah saat kau mati. Seperti kata pepatah penulis boleh mati tapi karya akan tetap hidup sepanjang masa. Semakin banyak orang yang terinsprasi terhadap karyamu, maka semakin besar pahalanya. Semoga apa yang kutuliskan kini dan nanti, menjadi ladang pahala untuk kini dan hari nanti. Semangat berkarya.

Tiada ulasan: