Rabu, 27 Julai 2016

Sepotong Kisah : Tak Perlu Kuliah Di Jurusan Sastra Untuk Menjadi Penulis, Ternyata Yang Dikatakan Ibu Itu Benar


            Dulu pengen banget, kalau lulus SMA mau  kuliah mengambil jurusan sastra, berapa kali mengutarakan niat kepada kedua orangtua. Tapi orangtua memberi padangan, kalau perempuan sebaiknya  kuliah  yang dikejuruan seperti kesehatan atau pendidikan. Biar mudah cari kerja, kalau kerjanya  tidak terlalu diposir. Coba kalau penulis, bayangkan, kesana-kesini untuk mencari data. Tetap bersikeras, karena sudah kadung pengen dan menjadi cita-cita dari sejak kecil. Tapi doa orangtua sangat mambrur, aku tidak lulus seleksi masuk peguruan tinggi negeri untuk  jurusan sastra.
`           Setelah berbagai pertimbangan dan diskusi, aku menyetujui saran orangtua untuk mengambil jurusan perawat. Jadilah kuliah disana, sambil memupus mimpi untuk kuliah di jurusan sastra.  Awalnya lumaya berat tapi berusaha menjalani dan menyukai bidang yang telah dipilih dengan sepenuh hati. Di tingkat dua sekolah keperawatan, aku menyadari satu hal, saat membaca buku sang pemimpi dan laskar pelanggi punyanya Andrea hirata. Bahwa hidup harus memiliki mimpi-mimpi, tak ada yang tak mungkin didunia ini. Siapapun kamu, apapun latar belakangmu, dari meski tak memiliki IQ yang tinggi, kau memiliki hak untuk bermimpi.
            Semangat menulis kembali tumbuh, semakin rajin mengujungi perpustakaan dan toko buku. Mimpi untuk menjadi penulis tumbuh kembali. Akupun menyadari satu hal, bahwa untuk menjadi penulis tak perlu kuliah di jurusan sastra. Banyak penulis-penulis hebat yang tak memiliki basic sastra. Siapapun bisa menjadi penulis, tapi seberapa besar dia mau berusaha dan bertekad. Menulis itu ya tinggal menulis, tapi menulis yang berkualitas, menginspirasi dan bisa terbit di penerbit mayor serta disukai masyarakat itulah yang butuh perjuangan.
            Ternyata apa yang dikatakan ibu itu benar,apa yang disarankan ayah tidak salah. Aku tak pernah menyesali, karena tidak jadi kuliah di jurusan sastra, malahan bersyukur mengambil jurusan berbeda. Itu akan menambah wawasan dan pengetahuan tentang suatu bidang. Menulis itu  membutuhkan banyak wawasan, agar tulisan semakin berisi dan bermakna. Itu semua baru aku sadari, setelah bertahun-tahun lulus kuliah. Disaat aku memutuskan untuk benar-benar ingin menjadi seorang penulis. Lebih tepatnya dua tahun yang lalu. Perawat tetaplah profesi yang kupilih untuk mencari rejeki, tapi menulis adalah sebuah hoby yang ingin aku tekuni sampai akhir usia atau menutup mata.


Tiada ulasan: