Selasa, 19 Julai 2016

SEPOTONG KISAH :TETAPLAH ISTIQOMAH, DI JALAN ITU KAU DILAHIRKAN



Seperti kehidupan, kita tidak  akan pernah bisa melupakan tanah kelahiran. Sebuah tanah  pertama kali kita membuka mata dan menantap dunia. Disana semua itu berawal dari belajar merangkak sampai berdiri. Dari melukis mimpi sampai kita bisa mandiri. Kau tahu,  sejauh manapun kaki itu membawa kamu pergi. Tetap, disudut hatimu akan  ada rindu dengan kampung halaman. Ada kalanya engkau akan kembali pulang untuk melepas rindu, meski telah memiliki kehidupan sendiri di tempat yang baru. Kau tak akan pernah bisa menghapus jejak, bahwa disana engkau dilahirkan. Dalam darah ada sebuah aliran yang mengikat dirimu.
Tetaplah istiqomah, di jalan itu kau dilahirkan, sampai tumbuh menjadi pohon meski belum berbuah. Dari biji, lalu berkecambah, sampai akar menacap ke bumi dan daun-daun hijaupun bermunculan. Maka teruslah tumbuh tetap ingat darimana kau berasal. Jambu bangkok berasal dari bangkok,  apel malang berasal dari malang. Ada suatu yang melekat tak mungkin bisa kau lupakan  karena  telah menetap pada bagian saraf ingatan.
Tetaplah istiqomah, di jalan itu kau dilahirkan. Jangan pernah menjadi kacang yang lupakan akan kulitnya. Dirimu tak boleh berubah warna bersama sang waktu, tapi tetaplah menjadi warna yang sama sepanjang masa. Meski tak bisa mewarnai tapi setidaknya jangan terwarnai. Meski tak bisa melukis tapi cukuplah menjadi objek lukisan.
Tetaplah istiqomah, di jalan itu kau dilahirkan. Ingatlah selalu tangisan pertamamu saat kau tatap dunia ini. Ingatlah selalu mereka yang pernah mendekapmu, membimbingmu, memberi seyum terhangat, mengajari merangkak, mengeja kata dan mengenalkan pada dunia. Sampai akhirnya kau mampu ber3diri sendiri. Ingatlah selalu itu, jangan pernah engkau lupakan.

Tiada ulasan: