Jumaat, 25 Mac 2016

Benarkah Buku Akan Tumbang Dan Hilang Dari Peredaran Seperti Media Cetak (Koran, Majalah )?



            Berapa hari terakhir lagi hangat isu tentang aksi demo blue bird dan taxi online. Bentrok yang tak bisa terelakan. Aksi para sopir blue bird yang tampak begitu anarkis tersebar. Tak hendak membela siapa-siapa. Luapan kemarahan  pastilah memiliki sebab. Peran pemerintah harus bermain dan memberikan solusi yang bijak. Solusi yang tidak merugi pihak manapun. Saya tak akan pajang lembar membahas isu tersebut.

            Kemajuan tekhnologi dan informatika di zaman ini, tidak  terbendung lagi. Bila  tidak mengikuti sebuah perubahan maka akan terlindas oleh waktu. Internet sudah menjadi sebuah kebutuhan pokok bagi setiap manusia. Sama seperti makan nasi, yang tak bisa lepas dari masyarkat Indonesia. Internet  telah menjangkau berbagai kalangan bukan hanya masuk pada tataran anak sekolahan. Dari pedagang kaki lima sampai pedagang kelas kakap. Dari sopir angkot sampai sopir pesawat. Dari anak kecil sampai orangtua. Bila kita ukur hampir sebagian besar masyarakat Indonesia mengakses internet setiap harinya, bahkan ada yang setiap saat.

            Ini sebuah fenomena yang tak bisa dipungkiri,  seperti kata pepatah dimana ada semut disitu pasti ada gula. Dimana ada keramainan disitu ada sumber harta karun. Berbondong-bondong orang yang menggunakan internet, membuat pundi-pundi uang itu tercipta. Analoginya misal ada konser musik, pameran, dan acara-acara lain. Tak hanya manusia yang ramai disana, tapi ada bisnis yang berjalan. Para pedagang asongan yang menjual minuman, makanan ringan, cemilan dan lain sebagainya. Begitulah sekira internet ini sekarang.

            Maka tak heran, sumber keramainan itu menarik orang-orang yang berpikir kreatif. Bagaimana memanfaatkan peluang di tengah keramainan. Dulukalau mau berjualan harus memiliki modal yang besar, beli barang dulu baru dijual. Sekarang lewat internet apapun bisa dijual, dan siapapun bisa menjadi pedagang. Tentu tak membutuhkan modal, cukup punya akses internet. Lalu mendaftar menjadi reseller, panjang produk tersebut di akun media sosial. Tinggal menunggu, bila ada yang tertarik bisa komentar.

            Begitupun dalam dunia penerbitan dan perbukuan. Saya membaca sebuah diskusi  di grup  dan status di media social yang membicarakan bahwa penerbit besar sedang mengalami kelesuan.  Dari berbagai lini memang sedang melewati masa transisi. Bisa jadi di masa mendatang buku akan jarang ditemui beredar di pasaran. Berganti dengan E-Book. Bukan karena buku tidak bermanfaat lagi tapi tergantikan oleh sebuah kepraktisan. Berapa tahun silam waktu kemunculan internet dengan berbagai situs website. Tulisan-tulisan yang disana diagap “terbuang”, ketidakkerenan bila dibandingkan dengan yang dimuat di koran. Tentu alasan ini sangat berdasar, untuk  menembus koran membutuhkan perjuangan berdarah-darah. Ratusan tulisan yang dikirim hanya berapa biji saja yang dimuat. Tidak main-main bukan. Bila dibandingkan dengan tulisan website yang terkadang tanpa penyaringan dan siapapun bisa memposting tulisan. Tapi seiring berjalan waktu, semakin ramai penduduk media social, menjadi sebuah kenyataan yang tak bisa diterelakkan. Situs-situs website seperti portal berita media cetak dan majalah mulai bermetamorfosis berubah wujud  website khusus dunia online.

            Website pendatang barupun bermunculan dan beragam. Penduduk media sosialpun disungguhkan kemudahan untuk mengakses informasi, dari berita terupadate sampai isu terhangat. Bila berita di koran harus menunggu pagi baru sampai di rumah sedangkan internet dalam hitungan menit berita sudah menyebar kesuluruh penjuru sampai bagi terpencil di bumi nusantara. Begitupun dengan tulisan yang ada di majalah, harus menunggu pergantian minggu, baru bisa membacanya. Kemunculan berbagai website yang memiliki kemiripan dengan majalah akhirnya mengganti posisi majalah tersebut. Majalah yang sering mengisi pada zaman sekolah dan kuliah, lenyap bagaikan ditelan bumi. 

            Lalu bagaimanan dengan buku ? Itulah yang menjadi pertanyaan dibenak saya. Apakah mungkin posisi nanti akan tergeser oleh E-Book. Segala sesuatu bisa saja terjadi. Tapi, kalau menurut kacamata saya sebagai penikmat buku. Posisi buku tak semudah itu, akan terlindas oleh kemajuan zaman. Ada berapa alasan yang mendasari. Buku tidaklah sama dengan koran dan majalah bersifat informasi dan ilmu pengetahuan ringan, hanya sekali santap saja. Buku ditulis dalam kurun waktu yang pajang sebelum ditayangkan, melewati sebuah proses riset dan perpaduan dari kinerja otak seseorang. Maka tak heran, buku memiliki ratusan lembar halaman. Sedangkan Koran sifatnya hanya sebentuk informasi, bila selesai dibaca maka akan membentuk sebuah tumpukan yang menggunung, tak jarang ada yang menjual kiloan, (maaf bukan bermaksud untuk menyepelekan).  Majalahpun sama hanya  menjadi bacaan dikala segang. Berbeda dengan buku, ada bentuk, isi dan subtansi.  Maka dari itu saya kira posisi buku dan penerbitan akan tetap hidup meski, seiring  berjalan waktu  sinarnya meredup. Tapi tetap memiliki tepatnya tersendiri.

            Tapi kemajuan tekhnologipun tak bisa dipadang sebelah mata, bila kita tidak mengikuti sebuah arus perubahan maka akan terlindas oleh waktu. Meski wujud koran, majalah atapun mungkin saja buku hilang dari peradaban di muka bumi. Tapi satu hal yang tak akan pernah hilang dan tidak termakan waktu.  Pembaca dan penulis adalah sebuah keterkaitan. Media saja yang berubah bentuk menjadi online bukan cetak lagi. Tapi isi didalamnya tetap sama dengan visi dan tujuan sebagai jendela dunia.

Tiada ulasan: