Rabu, 9 Disember 2015

Review Buku : Agar Anak Kita Menjadi Saleh By Hery Huzaery



Judul                          : Agar Anak Kita Menjadi Saleh
Penulis                       :  Hery Huzaery
Penerbit                     : AQWAM
Jumlah halaman        :  215

            Memiliki anak yang saleh, tidak bandel dan menurutkan perintah, tentu menjadi idaman setiap orangtua di dunia ini. Permata yang paling berharga adalah seorang anak saleh, ketika kita meninggal dunia akan terus mengalirkan amal. Rasa ingin saja tidaklah cukup, harus ada ilmu yang dikuasai  untuk membentuk anak yang bekarakter baik. Orangtua memiliki peran besar dalam pembentukan tersebut. Pada hakikatnya, setiap anak seperti kertas putih, orangtuanya yang mencoret-coret dan memberinya tinta. Orangtua yang menjadi penentu dari semua itu. Bila anak diajarkan dengan kelembutan maka dia akan tumbuh dengan berbudi. Bila dia didik dengan kekerasan maka muncul prilaku menyimpang menjurus kekriminal. Anak kecil akan mencontoh apa yang dia lihat dan menirunya, maka jadilah kebiasaan.
            “Seorang ayah adalah penggembala  keluarganya dan dia bertagung jawab atas gembalaannya. Seorang istri adalah penggembala di rumah suaminya dan dia bertagung jawab atas pengembalaannya..” (HR. Bukhari Muslim) (Hal, 33)
            “Jika orang tua, menanam kasih sayang yang tulus, sikap yang penuh kelembutan, perhatian yang menyeluruh, maka sang anak akan membalas dengan penuh ketulusan, dan selalu memperhatikan kebutuhan dan keinginan orangtuanya. Tetapi jika orang tua menanam kekerasan, kekasaran,  ketidakpedulian, maka ketika sudah renta tidak akan dipedulikan oleh anaknya.” (Hal, 39)
            “Pengaruh perbuatan satu orang terhadap seribu orang lebih besar daripada pengaruh ucapan seribu orang kepada satu orang.” (Hal, 73)
            “Anak adalah amanat di tangan orangtuanya. Hatinya yang suci adalah mutiara yang masih mentah, belum dipahat maupun dibentuk. Mutiara ini dapat dipahat dalam bentuk apapun, mudah condong kepada segala hal. Apabila dibiasakan dan diajari dengan kebaikan, maka dia akan tumbuh dalam kebaikan itu. Namun apabila dibiasakan dengan keburukan dan dibiarkan pasti anak akan celaka dan binasa.” (Hal, 75)
            “Kesalehan kedua orang tua berdampak besar dalam jiwa anak. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang taat dan tunduk kepada Allah.” (Hal, 90)
            “Doa merupakan faktor yang paling kuat untuk menghilangkan segala hal yang benci dan meraih segala hal yang diinginkan.” (Hal, 116)
            “Manusia membutuhkan ilmu jauh lebih banyak daripada kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan sebanyak nafas yang kita hirup.” (Hal, 129)
            “Nasehat itu seumpama obat, karena itu kita harus berhati-hati dalam menggunakannya.” (Hal, 139)
            “Cerita merupakan salah satu cara yang paling efektif mempengaruhi jiwa anak. Semakin kuat sebuah cerita, semakin besar pengaruhnya dalam menggerakan jiwa anak. Demikian juga semakin dini mereka mendengar atau membaca cerita-cerita berpengaruh tersebut semakin kuat bekasnya pada jiwa. Bahkan sebuah cerita apalagi kalau kisah nyata, akan mampu berbicara lebih banyak dibandingkan dengan nasihat yang terus menerus disampaikan.” (Hal, 161)
            Seseorang yang berhasil mencapai sukses pada bidangnya bukan semata karena bakat. Tetapi, karena pelatihan yang dilakukan secara terus menerus sehingga menjadikan dirinya ahli.” (Hal, 171)

Tiada ulasan: