Khamis, 24 Disember 2015

Review Buku : Memang Jodoh, By Marah Rusli



Buku-buku di era penulis angkatan balai pustaka seperti siti nurbaya, salah asuh, layar terkembang, bagai katak dalam tempurung, tenggelamnya kapal  Van Der WiJck. Banyak menyoroti nilai-nilai sosial saat itu. Selepas membaca tuntas buku ini,  merasa beruntung hidup di zAMAN sekarang, bukan pada waktu masih ada Belanda yang ingin menguasai wilayah Indonesia. Saat masyarakat masih memegang adat-istiadat diatas segala-galanya. Arti kebebasan yang tidak bisa berbuat sesuai keinginan dan ada aturan baku yang harus ditaati dan menjadi harga mati.
            Buku ini berkisah tentang Ramli yang berasal dari Padang terlahir dari kalangan bangsawan. Adat padang  pada saat itu, ibu-ibu akan berbondong mencarikan anak perempuanya suami untuk dinikahkan dengan seorang pria. Segala biaya ditagung oleh perempuan, dan laki-laki akan mendapat uang jemputan. Semakin tinggi tingkat kepopuleran dari segi keturunan dan pendidikan maka semakin banyak orang yang memperebutkannya dan uang jemputan akan lebih tinggi. Laki-laki boleh, menikah sesuka hatinya dan perempuan mau tidak mau harus siap untuk dimadu. Anak menjadi tagungan istri, suami boleh berkunjung saat malam  menjelang dan pergi saat matahari belum nampak. Tidak boleh terlihat jalan berdua, kalaupun  terpaksa harus ada jarak.
            “ Suami dipandang sebagai orang asing, yang hanya harus memberi keturunan kepada istrinya. Istri dipadang sebagai kepala keluarga, yang harus mengusai semuanya. Anak di pandang sebagai anak mamaknya dan bapak, sebagai tamu yang harus memberi sesuatu kepada istrinya.” (Hal, 61)
            Hamli yang telah selesai kuliah, pulang ke Padang. Tapi dia menolak berbagai perjodohan yang diajuhkan kepadanya. Dilubuk hatinya ada sesuatu keinginan untuk mengembara, melalang buana mencari seseuatu. Dia juga tak setuju dengan adat-istiadat yang begitu terikat. Dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Belanda, tapi ibunya mengancam akan bunuh diri bila dia masih nekad pergi kesana. Dia mengurungkan niatnya,  hanya kuliah di Jawa.
            Di jawa dia bertemu dengan seorang wanita bernama Din Wati, segala penyakit resah, gundah, yang selama ini menjangkiti Hamli  seketika hilang. Nenek yang melihat perubahan itu mendukung hubungan mereka, meski neneknya tahu pasti akan ada pertentangan dari pihak keluarga, dia tidak peduli. Hamli dan Din Wati  telah diramalkan akan berjodoh.
            “Jika perasaan kasih Hamli kepada Din Wati, dan perasaan sayang Din Wati kepada Hamli bertukar dengan rasa cinta sejati, Khatijah akan tetap bersyukur, karena besar harapannya penyakit Sedih Hamli akan hilang semuanya.” (Hal, 147)
            Setelah mendapatkan berbagai rintangan karena cinta mereka yang begitu kuat terlaksanalah pernikahan tersebut. Keluarga Hamli yang di Padang tidak diberi tahu, hanya kepada Ayahnya yang telah bercerai dengan Ibunya, dia mendapatkan persetujuan. Pernikahan berlangsung sederhana. Banyak orang yang kecewa dan berniat jahat untuk memisahkan mereka, berbagai cara dari hasutan sampai guna-guna, tapi tidak ada yang berhasil. Ibu Hamli dan keluarga besar di Padang sangat murka dengan kabar tersebut, karena itu melanggar adat istiadat. Apalagi Hamli menolak keras untuk menikah dengan perempuan padang sebagai suatu kewajiban. Dia berjanji tidak akan menduakan istrinya. Laki-laki Padang harus menikah dengan perempuan Padang, itu sudah harga mati, meski dia sudah beristri. Kalau tidak maka harus siap-siap dibuang dari tanah kelahiran.
            “Kami minta kau kawin di Padang ini karena kami ingin melepaskan utang kami kepada bangsa kami,  kalau kau tak kawini dengan perempuan padang, niscaya kamilah yang akan mendapatkan malu, karena seakan-akan kami tak dapat mengawinkan kau sudah kawin di Padang ini, tak dapatlah orang berkata, bahwa kami telah menyia-yiakan kau dalam kewajiban kami, karena tak dapat dan tak kuasa membujuk kau. Itu suatu aib yang amat besar bagi kami” (Hal, 358)
            Novel ini cerita sangat sederhana, konflik-konfliknya sangat natrual tidak ada kesan hiperbola, mengalir seperti air dan datar. Membaca novel setidak jadi tahu dan merasakan bagaimana sosial budaya pada zaman dulu.

Tiada ulasan: