Khamis, 4 Februari 2016

Airmata Bukanlah Sumber Kelemahan Tapi Lambang Kekuatan



Bagi sebagian orang ,beragapan bahwa menangis adalah suatu perbuatan yang sia-sia. Menjadi lambang dari sebuah kelemahan. Padahal dengan meneteskan airmata maka akan merilex otot-otot saraf yang tegang. Orang yang didadanya sedang berkecambuk  sebuah beban.  Saat airmatanya menetes, maka dada yang tadi sesak terasa plong. Pikiranpun jadi lebih tenang, bebanpun hilang dalam sekejap.  Sudah didesain oleh sang pencipta bahwa saat manusia bersedih fitrahnya dia akan menangis.
Menangis bukanlah sebuah kelemahan tapi lambang kekuatan. Bagi seorang wanita yang dikenal dengan  jiwa perasa nan lembut. Maka meneteskan airmata suatu hal yang biasa.  Dia bisa merasakan  yang terkadang diluar nalar dan logika.  Berbeda dengan kaum laki-laki yang lebih susah menitikan airmata, kecuali terhadap hal-hal yang diambang batas kesedihan misalnya ada anggota keluarga yang meninggal.
Bila ingin menangis, jangan ditahan tapi luapkanlah, Masalah yang mengganjalpun akan menguap bersama angin. Jangan berpikiran bahwa menangis sumber kelemahan tapi  merupakan lambang kekuatan. Bila kita menahan airmata yang ingin menetes, malah akan menjadi penyakit. Jantung akan bekerja lebih cepat dari biasanya.  Otak kita akan dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif ,  nafsu makan hilang dalam sekejap.  Lain halnya bila orang yang habis menangis maka dia akan merasa lapar. Itu semua karena energi yang  terkuras habis bersama pembuangan masalah, tubuh memberikan alarm untuk pemasukan energi baru.  Saraf otak telah berfungsi sebagai mana mestinya.  Berbeda saat belum menangis, sel- tubuh masih  kebingungan masih tertutup oleh kabut masalah. Maka dari itu,  jangan sungkan-sungkan untuk menangis bila memang dibutuhkan.  Apalagi sebagai wanita yang lebih mengandalkan perasaan daripada akal. Jauh lebih retan terpapar dengan masalah ,  karena lebih mudah memasukan semua kedalam  hati. Terkadang tanpadisaring oleh pikiran.

           

Tiada ulasan: