Isnin, 15 Februari 2016

LGBT TAKDIR ATAU PILIHAN HIDUP ?



LGBT fenomena yang merembak demikan pesat di negara-negara maju maupun berkembang. Sebagian dari negara maju sudah melegalkan LGBT atas nama HAM seperti Amerika dan Belanda. Perkawinan sejenis sah di mata hokum mereka. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia, tak mau kalah juga. LGBT mulai mengepakkan sayap dan menunjukan taring, Siapa jati diri sebenarnya. Sungguh ini sangat meresahkan, terutama masyarakat umum yang menganut nilai-nilai luhur dan menjujungi arti sebuah budi pekerti.  Negara Indonesia tak bisa disamakan dengan Belanda atau Amerika. Negara tersebut menganut sistem kebebasan diatas segalanya.  Sedangkan di Indonesia penuh dengan aturan yang beragam. Dari mulai adat yang mengikat serta norma melengkapi. Budaya LGBT tentu sangatlah asing bagi bangsa ini dan sangat tidak cocok untuk diterapkan. Tapi kalangan yang membela LGBT, berangapan bahwa ini melanggar HAM karena LGBT harus diakui. Lalu tidakkah termasuk melanggar HAM, bila LGBT membuat resah masyarakat karena bertentangan dengan budaya  Indonesia. Sedangkan budaya telah ada dari zaman dahulu kala. Dimana masyarakat menganut budaya harus menikah dengan lawan jenis bukan jenis yang sama.  Apakah HAM itu? Kenapa HAM harus merobak tataran yang sudah baku di masyarakat?  Bukankah tugas HAM, melindungi masyarakat banyak?
Selain itu ada juga yang berasumsi bahwa LGBT  takdir tuhan yang harus dimengerti. Takdir yang tak bisa terelakan dan harus diterima oleh LGBT. Seakan menjadi sebuah pembenaran bahwa menyukai sesama jenis  adalah sebuah naluri manusia sengaja desain oleh tuhan, dan berlindung atas nama HAM.
            Tapi dimata orang awam seperti saya, muncul pertanyaan. LGBT takdir atau pilihan hidup? Bila memang itu  takdir dari tuhan, tentu ada contoh makhluk hidup atau benda mati di dunia ini yang gaya dan prilaku mirip LGBT. Apakah ada seekor hewanpun didunia yang menyukai sesama jenis. Bila baterai HP dan jam dinding, ada tanda positif dan negatif . Adakah cerita sebuah lampu bisa menyala dengan menggunakan baterai positif. Magnet sekalipun akan saling tarik menarik bila bertemu dengan gaya positif dan negatif. Tumbuhan menarik kumbang dengan warna-warni dan wangginya, bukan menarik bunga lain untuk mendekat. Secara nalar, tuhan telah mendesain segala sesuatu dengan jenis berlawan untuk saling tertarik. Kita yang telahir menjadi makhluk paling cerdas dibandingkan makhluk ciptaan tuhan  lain, masa tidak merasakan insting untuk menyukai lawan jenis. Magnet saja akan saling menolak dan tidak ada reaksi bila disatukan dengan kutub yang sama, lalu kita manusia malah tertarik dengan yang sejenis.
            Dari analisa saya pribadi, bahwa LGBT itu bukanlah takdir. Tapi sebuah pilihan hidup yang diambil oleh seseorang. Kenapa seorang memilih jalan tersebut, tanyakan kepada hati masing-masing. Cinta itu berhubungan dengan naluri dan  hati bukan. Mungkin ada yang keliru dengan hatinya sehingga jalan yang dipilihpun salah. Andai memang LGBT itu takdir pasti tuhan memberikan petunjuk didunia ini lewat ciptaannya. Berbeda cerita bila terlahir dengan kelamin ganda. Artikel tak hendak untuk menghakimi atau menyudutkan siapapun. Tapi sekali lagi ini hanya pemikiran saya yang resah akan isu LGBT dan peyebarannya.
               

Tiada ulasan: