Jumaat, 19 Februari 2016

Kami, Hanyalah Masyarakat yang Resah akan Isu LGBT dan Penyebarannya





            LGBT akhir-akhir ini menjadi isu yag santer terdengar, begitu hangat menjadi sebuah perbincangan. Siapapun ikut terhayut didalamnya tanpa pengkecualian. Beragam ekspersipun ditunjukan dari yang pro dan kontra. Di media sosial, televisi sampai warung kopi, menjadi topik utama. Kenapa LGBT ini sedemikian menjadi sorotan ? Kalau kasus si Anida pengundang maut. Saya tak pernah mengambil bagian, isu BBM naik, isu pemerintahan lagi carut marut atau lain sebaginya, cukup hanya menjadi penonton dan penikmat saja. Berbeda cerita saat kasus LGBT ini mencuat kepermukaan. Desiran kerisauan dan kekhawatiran merasuk dalam kehidupan. Entah kenapa? Apalagi isu  tentang LGBT akan diakui di negeri sempat santer terdengar. Media social ikut ambil bagian mengkampanyekan, dengan HAM begitu gentol membela, serta stiker-stiker tentang LGBT terus bertebaran. Mendorong rasa keingintahuan apa gerangan yang sedang terjadi?
            LGBT sungguh menyedot perhatian terutam saya  masyarakat awam, ini isu yang meresahkan. Tak sedikit ibu yang  was-was anaknya keluar rumah, kegundahan seorang ibu itu wajar adanya. Bukan lebay, kawan. Dengan  kampanye LGBT begitu gencar dari berbagai lini. Tak perlu kita menutup mata atapun pura-pura tidak tahu. Saya sama sekali tak mempedulikan jalan hidup orang lain yang ingin menjadi LGBT. Tapi yang saya risuakan penyebaran LGBT yang tak terbendung. Saya hidup di negeri Indonesia, yang dibesarkan dengan lingkup norma dan aturan  yang tertata dan dinamis. Ragapun ikut teriris dan miris. Bila sekarang  LGBT sudah terang-terangan. Bagaimana nanti  dengan anak cucu saya. Kemajuan teknologi membuka cakrawala,  dan pintu, sedangkan saya tak cukup bekal untuk mempersiapkan benteng yang kuat. Mungkin , sama yang dirisaukan  sebagian ibu dan masyarakat  di Indonesia ini.
Tak hanya saya sebagai masyarakat biasa, orang ternama ikut mengambil bagian berkomentar, memberikan pendapat akan kekhawtiran mereka. Tapi sayang usaha mereka seakan dicekal, kebebasan berpendapat seakan dibatasi. Kerisauhan hati seakan harus dikunci dan pemikiran itu harus ditutup. Pemahaman modernisasi tanpa sebuah penghakiman dengan kunci penerimaan tanpa sebuah penyaringan dari akal sehat. Lalu, tanya muncul dalam hati. Para petinggi dan orang ternama serta terkaya di dunia, dengan terang-terangan mendukung LBGT, tapi mereka tetap adem ayem tanpa guncangan dan pencekalan. Berbeda cerita dengan seorang pentinju tenama yang mengungkapkan pendapat, lalu diputus kontrak kerja, karena pendapat yang bertolak belakang dengan mereka pengantut paham LGBT. Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang menyudutkan. Petinggi negara digoyang hanya kerena dia berpendapat tentang LGBT.
Itulah kenapa saya tak pernah bisa menutup mata tentang LBGT dan terus ingin mengluarkan suara. Bukan permasalahan pilihan hidup seseorang orang jadi persoalan tapi, penyebaran yang secara tidak langsung mengajak dan menuntut sebuah pemahaman, untuk kami  memberikan pengertian akan pilihan mereka. Bila orang lain ingin memilih minum keras padahal minum keras membahayakan, memilih narkoba padahal bisa mematikan, memilih merokok padahal bisa menyababkan kanker paru. Itu pilihan kalian kawan, tak ada yang melarang. Tapi ingat, jangan tuntut kami memahami dan mengerti akan pilihan tersebut. Sudut padang kita jelas berbeda, tak bisa disamakan.  Bila ingin memilih jalan itu silahkan, tapi cukuplah dirimu. Tak usah bersuara dengan lantang, apalagi berbagi-bagi serta mengajak. Itulah yang meresahkan, Kami mungkin tak akan tergoda, tapi bagaimana generasi selanjutnya. Itulah yang menjadi khawatiran kami. Bukan soal apa-apa. Berharap kalian pembela LGBT memahani pemikiran kami yang gencar mencegah LGBT menyebar. Kami hanyalah masyarakat yang resah akan isu LGBT dan penyebarannya.

Tiada ulasan: