Isnin, 1 Februari 2016

Review Buku : Maria Zaitun By Joko Santosa



Judul              : Maria Zaitun
Penulis            : Joko santosa
Penerbit          : Pustaka Pelajar
Tahun Terbit :September 2015

            Tertarik membeli buku ini karena sinopsis yang ada di belakang cover, yang  menceritakan tentang pergolakan kerusahan Mei 1998. Bagian depannya ada tulisan tentang Adapatasi “Nyanyian Angsa” Karya W. S Rendra.  Membuat hati terpikat dan memutuskan untuk memiliki dan memasukan buku ini dalam daftar bacaan.
            Buku ini meceritakan tentang Ling Ling, gadis keturunan China yang memiliki latar belakang keluarga berada. Dia memiliki wajah yang cantik serta otak cerdas, lengkap sudah kesempuranaan hidupnya ditambah dengan seorang kekasih yang berlatar belakang dari orang terpadang yang kaya-raya bernama Hertomo. Mereka telah menyusun recana pernikahan yang akan berlangsung bulan depan. Tapi semua keindahan itu seketika sirna saat terjadi kerusuhan pada mei 1998, melenyapkan seluruh kebahagian. Ling-ling diperkosa, masa depan suram dan terpisah dari keluarga. Terpaksa harus hidup dijalanan menjadi seorang perempuan malam, mengubah namanya menjadi Maria zaitun.
            “Aku selalu mengalami tantrum setiap teringat betapa lusuhnya nasibku pada kerusuhan Mei 1998 itu. Aku ambil kertas dan pastel. Aku melukis laut yang tenang. Ketenangan yang jinak. “ (Hal, 19)
            Pada bab awal membaca novel ini, jujur saya katakan sebagai pembaca terhayut oleh alur yang dibuat penulis. Kata-kata tertata serta kalimat yang  penuh makna. Seakan kita di bawah kedalam cerita dengan setting kota Los Angeles yang detail. Tapi memasuki bab pertengahan mulai kehilangan suatu hal yang menarik karena alur cerita yang berubah seketika. Tiba-tiba dibawah kealam lain (dunia mistis) dan pembaca disuruh berimajenasi. Seperti keluar dari subtansi cerita yang membahas tragedy pada tahun 1998. Pada halaman 42, setting cerita yang digunakan adalah masa sebelum kerusuhan. Tapi digambarkan Ling-ling dengan kekasihnya sedang asyik membahas desain pernikahan menggunakan lattop, sibuk selfie serta menggunakan kata rayuan “Bapak Hackernya ?” “Kok Tahu?” bukankah rayuan seperti ini booming di era sekarang.  Komputer baru tenar di tahun 2000an. Kurang pas saja menurut saya dalam segi penggunaannya. Terlepas dari itu semua buku ini tetap menarik untuk dibaca.

Tiada ulasan: