Jumaat, 12 Februari 2016

LGBT SEPERTI INFLUENZA DI MUSIM HUJAN



Berapa tahun silam LGBT tidak sesemarak sekarang, masih malu-malu tampil di depan umum. Tapi, tahun belakangan ini mereka mulai menampakan diri. Menunjukan taringnya yang semakin kuat dan kokoh. Tak terbendung bagai arus air di musim hujan. Ibarat virus yang menyebar, menyerang siapa saja yang sitem pertahannya lemah. Melumpuhkannya, hingga terjangkit dan menular kepada yang lain. Siapapun menjadi khawatir akan tertular dengan virus ini. Bila sekarang demi kian dahsyat gerak penyebarannya. Bagaimana generasi mendatang. Bisa saja tak bisa membedakan lagi, dan semua menjadi sama terfasilitasi. Semoga saja itu tidak terjadi. Saya menulis artikel ini karena terdorong rasa khwatir.  Bagaimana kelak anak-anak cucu saya. Bagaimana mereka akan tumbuh dan berkembang ?  Bagaimana saya sebagai orangtua menjelaskan kepada mereka dengan pemahaman anak kecil ? sedangkan di segala pejuru dan arah serangan itu seakan tak terbendung lagi.
            Saya tak peduli bila kalian memilih jalan ini dan tetap bertahan pada pilihan hidup. Menikmati semuanya dengan penuh kebahagian. Sungguh toh kita telah diberi akal oleh tuhan untuk berpikir. Jadi biarlah.Yang paling saya takukan adalah penularannya dan  belum lagi penyaikit HIV sebagai penyertanya. Saya takut ini menjangkit ke lingkungan sekitar, keluarga  dan sahabat saya. Itu saja yang  ditakutkan. Tidak untuk sekarang, bagaimana kalau 10 tahun, 20 tahun, atau 30 tahun yang akan datang. Berapa negarapun telah terang-terangan melegalkan ini. Ini berarti bukan masalah yang ringan.
  Tugas kita kedepan akan sangat berat. Ada sebentik rindu, melewati masa-masa kecil dulu.  Tak ada masalah yang sedemikian mengerikan. Dahulu permasalahan hanya sebatas kekuatan adat-istiadat dan yang berbau mistis saja.  Dua anak manusia tak bisa menyatu cintanya karena perbedaan ada istiadat atau strata social. Tapi, hari ini tidak demikian  ceritanya, orang-orang memperjuangkan cinta terlarang, jelas membuat sebuah tatanan masyarakat itu pincang. Memusnakan keturunan dan menyebarkan virus HIV. Bila Adat-istiadat hanya sebentuk kepercayaan dan sama sekali tidak menular. Bila itu kita agap baik bisa diikuti, bila tidak baik maka bisa ditinggalkan. Berbeda dengan  yang ini, dia bagai virus influenza yang menyebar bisa kesiapa saja. Tak peduli, tua,muda dan anak kecil. Tanpa padang bulu.
            Tugas kita  sebagai orangtua kedepan sangatlah berat, bagaimana membentuk sistem pertahanan tubuh yang kuat. Sistem pertahan yang langsung melumpuhkan virus dan bakteri. Tubuhpun langsung bisa mengenali. Salah satunya  caranya, jangan biarkan anak-anak kita  kehilangan sosok di rumah. Jangan biarkan anak-anak lebih nyaman di luar daripada di rumah. Jangan biakan anak-anak kita mencari sosok yang lain diluar sana untuk didia berkeluh kesah. Bila pertahanan kuat, seberapa hebat virus itu mau menjangkit tubuh, maka tentara peralawan akan keluar membasmi. Dengan memulai dari diri sendiri. Keluarga dan masyarakat.
            Artikel ini tak hendak menyudutkan apalagi menghakimi mereka yang sedang berada pada jalur yang salah. Moga suatu hari nanti mereka cepat sadar buru-buru kembali. Andai mau dan bertekad ingin bertaubat, jalan itu terbentang luas. Ada grup yang memfasilitasi untuk menjadi pribadi yang baik dan hidup normal kembali, tanpa perlu biaya, hanya perlu kemauan saja.  Hidup itu pilihan. Doakan teruntuk kalian semua, semoga segara kembali.

Tiada ulasan: