Khamis, 1 Oktober 2015

Tentang sebuah kisah : Bila itu rejekimu pasti tak akan tertukar



Teringat kejadian tahun 2010 saat nama tidak ada di koran. Menyepi di kamar dengan linangan airmata. Masih tak percaya dan tidak yakin akan semua itu. Padahal sudah berusaha pada titik maksimal. Belajar siang malam, memakan habis soal-soal. Tapi kenyataan berkata lain, itu belum rejekimu. Padahal aku telah percaya diri, dan mengagap bisa menjawab soal  dengan baik. Apa yang dipelajari tidak jauh berbeda dengan soal-soal ujian tersebut. Maka saat selesai tes, berkumpul bersama teman membicarkan ujian soalnya lumanyan mudah. “Kayak deh, bakalan lulus”, teman yang satu juga menyahut “Iya sepertinya, moga saja itu rejeki kita”. Saat orangtua bertanya gimana ujian tadi dengan enteng menjawab semua terselesaikan dengan baik. Tumbuh sebuah keyakinan bahwa pasti luluslah  Hingga waktu pengumuman tiba, tidak ada namaku disana. Berarti sudah jelas itu tidak lulus. Saat itulah tubuh terasa lemas, sama sekali tak percaya (saat mungkin terlalu berharap dan pede). Bagai menelan pil pahit akan kenyataan yang tak sesuai harapan. Apalagi ada berapa nama  dalam daftar, aku mengenal orangnya dan kredibilitasnya kurang baik. Berbagai pikiran negatif berseliweran.
Tumbuh sebuah keyakinan bahwa benar adanya isu yang berkembang bahwa bila mau lulus pakai uang. Aku mulai berpikir lebih baik tidak menjadi seorang pegawai daripada memakai jalan pintas. Toh bisa mencari pekerjaan lain, dan buka usaha jualan buku, atau buka jasa photo copy dan rental komputer. Itulah yang terpikir dalam benakku daripada menghabiskan uang puluhan juta hanya untuk mendapat predikat. Sejak kejadian tak mengebu-gebu seperti kemarin, tak membangun sebuah harapan lagi. Belajar dari kejadian tersebut bahwa sangat menyakitkan bila terlanjur berharap tapi tidak terwujud.
Pada  tahun 2012 ada lagi penerimaan pegawai, tetap ikut mendaftar tapi hanya sekedar ikutan, tidak ada motivasi seperti kemarin. Meski tetap mempersiapkan, membaca soal-soal yang sempat dipelajari. Memutuskan untuk ikut tes penerimaan pusat bukan daerah. Dengan pertimbangan masih menjalankan kuliah jadi bila tesnya dipalembang akan lebih mudah.  Tapi belum  ikut tes baru pemberkasan sudah ditolak. Menatap kalimat di layar lattop bahwa berkas ada ditolak silahkan mencoba dikesempatan berikutnya. Semakin donwlah  mengagap itu pertanda dari tuhan. Memutuskan untuk fokus menyelesaikan kuliah.
Mbak mengatakan  bahwa  ikut  saja  di Lampung, masih buka pendaftaran. Akupun menjawab, sudahlah tahun ini ngak usah ikut tes. Setelah berbagai wejangan dan bujukan, biar dia ada teman pas tes kesana.  Dengan setengah hati dan tentu dibantu mbak mempersiapkan segala berkas akhirnya memutuskan untuk mendaftar. Selang berapa minggu nomor ujian keluar, dan kebingungan mulai melanda dengan masalah jadwal. Tanggal 5 september wisuda, tanggal 10 sudah mulai kuliah profesi dan praktek lapangan di rumah sakit dan tanggal 8 tes itu dilaksanakan. Belum lagi sibuk persiapan dan pembekalan sebelum terjun kelapangan. Dalam kebimbangan, lebih condong untuk tidak ikut tes.
Sepulang dari kampus langsung kekost merebahkan diri, minta tolong ke adik lihatin di internet berapa jumlah peserta.  Dia bilang bahwa ada 1800 orang peserta perawat formasi yang diterima cuma 36 orang . Semakin ciutlah hati, mustahil bakal lulus. 1800:36  sebuah persaingan yang sengit, setelah menimbang, sayapun memberi kabar  ke orangtua bahwa ngak ikut. Bapak cuma berkata, terserah kamu, mana yang terbaik. Di seberang sana mbak masih membujuk bahwa besok kita berangkat pagi nebeng mobil teman, apapun yang mau dibawah sudah ia persiapkan. Akupun kekeh untuk tidak ikut karena alasan bahwa itu hanya sia-sia saja menghabiskan waktu.
Adzahan ashar berkumdang, lalu sholat. Selesai berdoa, tiba-tiba muncul dorongan untuk ikut tes. Tanpa banyak kata, aku bilang “dek mbak mau ikut teslah”.  Adikku bengong, hampir tak percaya, kok seketika bisa berubah tadi ngotot ngak mau ikut. Untung masih dapat travel buat pulang. Sampai di rumah jam satu malam, langsung istrahat. Dan jam 5 shubuh sudah  langsung berangkat. Selama perjalan mengagap itu bukan untuk ikut tes tapi malah refresing. Sampai dilokasi, semua tempat penginapan sudah penuh. Tempat ujian mbak dan temannya  di Islamic center khusus untuk guru sedangkan saya di gedung serba guna thiou thou. Lautan manusia dan kendaraan memadati setiap ruas, banyak yang tidak dapat tempat penginapan terpaksa tidur di pinggiran masjid dan di mobil. Beruntung kami mendapatkan tempat tidur, di asarama Islam center. Bahkan  ada tiga orang yang menawarkan tempat penginapan ke saya. Seorang ibu penjual pencil “Nak sudah dapat penginapan belum?” tanyanya, Bapak-bapak saat saya baru selesai sholat juga bertanya “sudah dapat penginapan belum?” dan seorang pedagang  juga menanyakan hal yang sama padaku sedangkan banyak disana orang-orang yang kebingungan menjadi tempat istrahat. (Dari itu saya merasa bersyukur dan beruntung di beri kemudahan, sebuah tempat yang baru pertama aku datangi)
Tibalah saat ujian, sama seperti waktu itu. Begitu lancar dan mengalir menjawab soal. Keluar gedung dengan langkah ringan, menunggu jemputan. Lautan manusia itu satu persatu meninggalkan lokasi dan aku masih duduk disitu sambil mengobrol dengan seorang wanita juga sedang menunggu. Sehingga tersisa hanya saya sendiri dan penjual minuman. Jemputan datang “lamanya nak nunggunya, tadi macet soalnya?” kata ibuk temannya mbak, aku hanya terseyum. “Gimana ujian, yakin ngak buat lulus?” “entahlah buk,” terbersit dalam hati bahwa kemungkinan untuk lulus itu ada. Tapi buru-buru kutepis tak ingin kejadian kemarin terulang,  kecewa saat semua tak sesuai bayangkan.
Kembali fokus kuliah profesi, praktek dirumah sakit. Dinas pagi langsung kekampus ujian kasus, kerja kelompok, pulang kekost harus menyiapkan materi, begadangpun menjadi rutinitas. Sama sekali tak memikirkan hasil tes. Di ruangan teman-teman pada ribut bahwa nilai tes  sudah keluar. Aku membuka internet, menatap nilai yang lumayan, tapi masih tak percaya diri. Di palembang  pengumuman kelulusan sudah keluar.  Saudara sepupu yang pintar dan lulus kuliah di Unsri  dengan comulaude. Sudah mustahil kalau dia tidak lulus, semua orang menyakini itu. Iseng-iseng memasukkan nomor ujiannya dan nilaipun tertera, tercenung sejenak nilai kudapatkan lebih tinggi sedikit dari dia.  Terbersit dipikiran kemungkin untuk aku  lulus itu ada, tapi lagi-lagi aku tepis rasa itu. Mana mungkin, pasti banyak yang nilainya lebih tinggi  apalagi dengan peserta ribuan.
Saat mengantar pasien untuk St scan, dan duduk bersantai menunggu, aku iseng membuka HP. Kaget, saat ada 20 panggilan tak terjawab dan 30 puluh sms masuk. Dari keluarga dan teman, tak percaya ada yang mengucapkan selamat dan sms mbak yang mengatakan bahwa namaku ada dikoran dan internet. Masih terasa mimpi, terpaku menutup muka dengan tangan. Benarkah ini, tak  berapa lama bapakpun menelpon lagi dan mengatakan hal serupa. Hampir mau meloncat tapi ingat di tempat umum hanya bisa seyum-seyum sendiri. Teman satu kelompok yang kebetulan juga mengantar pasien “Kenapa kak seyum-seyum sendiri”
“Kakak lulus Cit?”
“Benaran tah kakak?”
“Iya” kami berbagi kebahagiaan
Ada telpon masuk dari mbak, dia memberi kabar bahwa ada kemungkinan untuk tes kedua kamampuan  bidang, jadi  belum sepenuhnya lulus. Kebahagian itu seketika sirna, bila memang ada tes lagi, saya tidak akan ikut. Kemungkin untuk lulus itu pasti kecil. Tapi ternyata, tes itu hanya untuk formasi guru. Senang tak terkira benar adanya. Bilang memang itu rejeki kita pasti tidak akan tertukar.
Saat sudah kerja di rumah sakit, wanita yang kutawari minum saat menunggu jemputan,  dan sempat menjadi teman mengobrol juga lulus. Dan aku sama sekali tak mengingat itu. Saat mengantar pasien keruang operasi
“Kamu masih ingat saya ngak?”
“Ingatlah, mbak. Orang mbak kerja di ruangan operasi? ” kataku sambil terseyum
“Ngak, saat tes kemarin. Kamu yang kayak orang hilang” dia berseloro. “Kamu yang menawarkan minuman itu?” mengingat kembali kejadian itu.
“Iya mbak aku ingat? Ternyata ngak nyangkanya kita bisa lulus dan ketemu?”
Dari disitu belajar bahwa bila itu rejeki kita pasti tak akan tertukar jangan berhenti untuk berusaha dan berdoa.
****

Tiada ulasan: